Saturday, May 20, 2017

Sudut Pandang

Sudut pandang, menurut KBBI, berarti cakupan sudut bidik lensa terhadap gambar. Di blog Sitra Wijaya, disebutkan bahwa sudut pandang adalah suatu teknik yang digunakan pengarang dalam menampilkan pelaku dalan ceritanya. Dari blog tersebut pula, dinyatakan ada 3 macam sudut pandang, yaitu (1) Sudut pandang orang pertama, (2) Sudut pandang orang ketiga, (3) Sudut pandang orang ketiga serba tahu.

Sudut Pandang

Di artikel ini, saya sama sekali tidak akan membahas mengenai sudut pandang tersebut. Saya akan mengangkat definisi sudut pandang sebagai sikap atau cara pandang seseorang terhadap sesuatu kejadian, masalah, atau isu dari kacamata diri sendiri sebagai obyek. Bagaimana orang yang berbeda sudut pandang akan dapat menghasilkan aktivitas yang dianggap mengganggu satu sama lain.

Suatu hari saya menonton acara di televisi yang menampilkan sebuah survey yang menanyakan “Kendaraan apa yang dianggap paling mengganggu untuk pengguna kendaraan pribadi di Jakarta?”. Sebelum jawaban survey tersebut diperlihatkan, saya menebak-nebak bahwa yang akan mendapatkan suara terbanyak adalah Bus. Bagi saya, kelakuan para penglaju Bus sangat meresahkan para pengguna jalan raya. Mereka melakukan zig zag yang berbahaya dan tiba-tiba, berhenti seenaknya, berkendaraan dengan kecepatan tinggi, dan sering kali berkendaraan mepet dengan mobil pribadi. Hipotesis saya mengatakan demikian. Saya sangat yakin para penjawab survey tidak menyukai kelakuan pengemudi Bus.

Ternyata saya salah. Sekitar 60% penjawab survey yang merupakan pengguna mobil pribadi menyatakan bahwa kendaraan yang dianggap paling mengganggu di jalanan ibukota adalah motor. Ya, motor. Saya terkejut karena presentasenya sangat besar di atas lima puluh persen. Awalnya, saya berfikir motor pasti akan berada di peringkat kedua dengan hasil yang tidak jauh berbeda dengan bus. Hasil survey ini cukup membuat saya tertegun. Ketika ditanya oleh MC, beberapa penjawab survey mengatakan bahwa pengguna motor seringkali menyerempet mobil dan lalu pergi tanpa maaf, pengguna motor lebih tidak mau mengalah, sering berjalan berlawanan arah, dan banyak alasan lainnya.

Sudut Pandang

Sebagai seseorang yang pernah menggunakan moda motor dan mobil untuk kuliah, bekerja, dan sebagainya; saya sangat memahami kenapa hal ini bisa terjadi. Saya menyebut friksi ini terjadi karena ada perbedaan sudut pandang antara pengguna motor dan mobil. Saya ambil contoh saja, sudut pandang mereka terhadap definisi jarak aman. Bagi seorang pengguna motor, jarak aman terdekat dia dengan motor atau mobil lainnya mungkin adalah 10 cm. Selama tidak kurang dari 10 cm jarak antara pengguna motor dan pengguna kendaraan lainnya, menurut yang membawa motor ya tidak jadi masalah. Mereka sudah terbiasa menyetir motor dengan selisih dimensi dengan kendaraan lain hanya 10 cm. Bagi pengguna motor, jarak super mepet antara motor dia dan bemper depan mobil ya tidak apa-apa. Hal ini sangat berbeda dengan pengguna mobil. Bagi pengguna mobil, jarak aman antara dia dengan pengguna kendaraan lainnya mungkin 30 cm. Jika selisih mobil dia dengan kendaraan lainnya kurang dari 30 cm, si pengguna mobil akan merasa tidak aman dan risih.

Ketika dua golongan dengan dua sudut pandang yang berbeda ini berada dalam sistem yang sama (baca: jalan), sudah pasti akan ada ketidakcocokan. Ketika pemotor berkendaraan mepet hanya sekitar 10 cm dengan pemobil, sudah pasti pembawa mobil akan kesal. Pembawa mobil takut mobilnya keserempet atau takut menabrak motor karena jaraknya yang terlalu dekat. Sementara itu, pembawa motor merasa asyik-asyik karena bagi dia jarak ini masih aman. Dari dalam mobil, si penyetir mobil tidak bisa merasakan seberapa dekat antara motor dan mobilnya. Hal ini sangat berbeda dengan pengguna motor. Mereka bisa merasakan sedekat apa mereka dengan kendaraan lain dan mereka merasa sangat fleksibel untuk bisa menghindar. Perbedaan sudut pandang ini lah yang kemudian dapat menimbulkan persepsi dan melahirkan stigma dari satu golongan ke golongan lainnya.

Suatu saat saya dibonceng menggunakan motor. Dari sisi kiri jalan raya, ada mobil yang hendak keluar. Mobil tersebut sangat berharap bisa diberikan jarak aman agar bisa masuk ke jalan raya tersebut. Seperti yang umum terjadi, para pemotor tidak memberi kesempatan kepada pemobil. Motor seperti tidak ada habisnya: datang, datang, dan terus datang tanpa memberikan kesempatan kepada pemobil. Gumam si pengguna motor, “Ya, lu enak naik mobil dingin, kita naik motor panas nih. Kasih jalan dulu donk”. Lagi-lagi ini berbicara sudut pandang. Si pengguna motor menganggap pengguna mobil itu nyaman berkendaraan dengan mobil; sementara si pengguna mobil tidak bisa merasakan panas yang diderita pengguna motor.

Idealnya, ketika kita bermasyarakat dan memiliki sudut pandang yang berbeda, kita harus mau saling menghargai dan saling bisa memposisikan diri agar bisa memiliki pengertian. Sering kali saya melihat pengguna mobil menghina pengguna motor, dan juga sebaliknya. Saya tidak akan membahas solusi untuk menyatukan sudut pandang tersebut. Saya hanya berharap bahwa masyarakat kita bisa saling melihat dari sudut pandang masing-masing. Pengguna motor tidak boleh merasa inferior; dan pengguna mobil tidak boleh merasa superior. Indah sekali ketika kita bisa saling menghargai.

Yang di atas barulah merupakan salah satu contoh. Kasus lain yang bisa kita angkat adalah perseteruan antara buruh dan pengusaha. Sudut pandang antara buruh dan pengusaha, menurut saya, akan susah sekali dicari irisannya. Buruh memandang masalah dari sudut pandang yang mungkin sangat berbeda dengan pengusaha. Oleh karena itu, peran pemerintah sebagai penengah kedua sudut pandang tersebut sangat penting.

Menyatukan Sudut Pandang


Jika kita bisa menggabungkan berbagai sudut pandang yang berbeda dalam menghasilkan sebuah solusi, maka sudah pasti solusi yang lahir akan lebih komprehensif.

Kita pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang matanya ditutup dan kemudian dihadapkan pada satu gajah. Hanya saja, masing-masing orang dipersilakan memegang hanya salah satu bagian dari si Gajah. Ada yang memegang belalai, ada yang memegang daun telinga si gajah, dan sebagainya. Mereka pun ditanya, “benda apa yang sedang kalian sentuh?”. Berhubung mata mereka ditutup, masing-masing mempunyai jawaban tersebut yang lahir dari perspektif masing-masing terhadap obyek yang dipegang. Yang memegang badan si gajah, berkata bahwa ini adalah dinding. Yang memegang ekor gajah berkata ini tali. Yang memegang belalai gajah berkata ini ular. Yang memegang kaki gajah berkata ini kolom. Yang memegang telinga gajah berkata ini kipas. Mereka saling bingung, dan berkeras kepala terhadap jawaban masing-masing. Semoga masyarakat kita semakin fasih dalam menghargai perbedaan sudut pandang dalam dimensi norma dan hukum.

Artikel Terkait

Hidup memang membutuhkan motivasi, karena hidup adalah perjuangan maka kita harus mempunyai semangat juang yang tinggi.