Monday, May 1, 2017

Pertamakali Melihat Pacar Mandi

Pertamakali Melihat Pacar Mandi - Perempuan, kampus dan hura-hura adalah tiga hal yang tak dapat saya lepaskan semasa awal di perguruan tinggi. Ketiganya mempunyai kenangan dan sensasi tersendiri.

Kuliah di bidang seni rupa adalah surga dunia. Dibebaskan dari seragam layaknya anak SMA, diperbolehkan memakai dandanan sesukanya. Mau gonjes, mau botak plus anting sebelah, mau modis bak peragawati, mau kumuh gembel seperti seniman jalanan. Terserah!

Pertamakali Melihat Pacar Mandi

Merokok di kelas juga bisa. Makan, minum dan membawa radio tape selama pelajaran dihalalkan, asal tidak membuat huru-hara, kurang ajar atau overacting. Satu-satunya aral melintang adalah Ibu dosen mata kuliah sejarah. Beliau mengharuskan kami berpakaian rapi, melarang makan minum di ruang belajar, apalagi merokok. Bukan karena kelas ber-AC, melainkan pengajar ini memang bergaya jadul dan otoriter. Jika melanggar aturan, kami disuruh keluar ruangan. Maka kami menyebut dia: The Natural Born Killer.

Tetapi mau nggak mau saya harus berbaik laku dengan dosen itu. Pasalnya, putri beliau adalah teman sekelas saya yang jelita. Namanya Menul, wajahnya imut-imut, berhidung mungil, dan alisnya tipis memanjang. Tulang pipinya kecil menonjol, matanya kecoklatan besar mirip boneka. Cara bicaranya ‘njawani’. Dan kerap membantu saya, mengerjakan tugas kampus yang sepuluh gudang jumlahnya.

“Kalau beli Gouache, mbok ya merek Windsor & Newton. Jangan Sakura -itu cat poster buat anak SMP,” saran Menul (serius) tatkala kami mengerjakan PR.

“Kuasnya mbok ya jangan yang murahan. Gampang rontok bulunya, ngotor-ngotorin kerjaan kamu…!” tambahnya dua rius.

Saya tahu dia sedikit cerewet, sejak melihat tahi lalat menghias dekat bibirnya. Saya pernah baca hubungan antara andeng-andeng dan sifat seseorang melalui buku primbon. Menurut referensi itu, walau bawel, dia setia dalam bercinta serta membawa hoki pasangannya. Mudah-mudahan benar. Saya mendadak percaya ramalan dan rekaan karakter yang jauh dari rasional.

Meski gemar ‘berkicau’, Menul baik hati dan berparas ayu alamiah. Tanpa polesan make up, tanpa pewarna kuku, tanpa body piercing. Rambutnya panjang wangi, sering diikat mirip ekor kuda Sumba. Kakinya bersih jenjang dan selalu berpakaian modis. Kadang model gipsi dengan gaun kembang-kembang selutut, memakai boots kulit. Lain hari memakai jeans dan rompi motif kotak-kotak, plus topi baret, serupa seniman Perancis seraya menenteng tas portfolio ke kampus. Kerennnnn…..

(Ironisnya gaya fesyen Menul, bertolak belakang 180 derajat dengan tampilan Ibunya. Apakah guru sejarah selalu konservatif dan ketinggalan jaman ya?)

Lama-lama saya menyukai Menul luar dalam. Dia bak manekin bernyawa di antara sekian banyak teman perempuan. Juga menjadi elemen estetis di antara komposisi cowok-cowok kumal, lusuh serta gonjes jarang mandi.

Dan sejak kenal dengan dia, saya berhati-hati jika memanggil Ibu dosen alias Mamahnya Menul. Alasannya, nama panggilannya adalah Rukanto. Mungkin itu nama suaminya (atau bukan), saya kurang tahu. Hanya saja menyebutnya tak bisa patah-patah, harus lengkap Bu-Ru-kan-to. Kalau terpisah akan ganjil kedengaran: BuRuk, BuKan, atau BuTo!

Salah sebut, saya bisa kena damprat. Baik oleh Ibu dosen, maupun dari Menul.

Suatu ketika, Senat Mahasiswa mengadakan perkemahan di lereng gunung, dekat dengan kota Sukabumi. Hampir seluruh mahasiswa baru, termasuk saya ikutan acara tersebut. Rugi kalau absen, soalnya Menul ikut. Lalu jauh-jauh hari saya merengek orang tua untuk dibelikan ransel, sepatu gunung, tenda dan aneka kebutuhan lain. Saya malu kalau cuma ‘apa adanya’, nanti dikira cowok nggak bermodal alias mokondo. Dan namanya orang tua, nalurinya memang jitu.

Ibu bertanya,”To..kamu pasti naksir ya sama salah satu teman perempuanmu. Iya kan?”

“Siapa bilang?…Darimana Ibu tahu?”

“Ah, ngaku aja!…. Ngapain kamu minta macam-macam begini, kalau bukan buat seseorang? Nggak biasanya kamu rewel dengan masalah penampilan dan alat-alat berkemah….”

Ibu benar, tapi saya tak mau mengaku. Malu ketahuan. Pura-pura melengos dan membereskan buku-buku kuliah, daripada diinterogasi berkepanjangan. Dan lagi, saya betul-betul tidak menyadari bahwa saya kini mulai mematut-matut diri. Alam bawah sadar sedang bergelora. Dulu saya lebih menyukai pantai dan laut, kini mendadak obsesi dengan pegunungan. Aneh!

***

Acara perkemahan dimulai, kami berangkat beramai-ramai naik truk tertutup terpal, seperti yang digunakan prajurit ABRI. Peserta banyak tapi jumlah truknya pas-pasan, kami berdesak-desakan duduk. Sebagian malah merebah dan tidur-tiduran di area mondar mandir orang. Dan sudah pasti saya bersebelahan dengan Menul, setelah sedikit bersitegang dengan salah satu senior yang ngotot ingin duduk di sebelahnya. Untung ketua panitia datang, menyuruh sompret itu naik truk khusus kakak kelas.

Perjalanan Jakarta-Sukabumi tidak secepat yang diperkirakan. Truk-truk bergerak selamban keong, namun justru jadi keuntungan besar buat saya. Menul mengantuk di tengah perjalanan, lantas merebahkan kepala di paha saya. Teman-teman cowok terlihat iri, tidak semua dari mereka bersebelahan dengan rekan perempuan. Saya yakin mereka gigit jari sepanjang perjalanan.

Menjelang kota Sukabumi, kaki saya semutan, setelah sekian jam tak beranjak sedikitpun. Khawatir kalau digerakkan, Menul akan terbangun. Buntutnya, mungkin saya ketulah teman-teman yang iri, kaki kiri saya mulai kram. Dan setiba di tujuan, rasa sakit makin gila-gilaan. Menul bangun, lantas secepatnya saya persilahkan turun duluan. Sementara saya sibuk memerangi rasa sakit yang lama sirna tak keruan.

NO PAIN NO GAIN: pepatah usang mendadak tertancap di kepala.

Meski di lereng gunung, Menul tetap serupa manekin seksi, memakai bicycle pant dan kaus ketat. Mengundang para rekan senior memotret. Mentang-mentang di semester tiga mendapat mata kuliah fotografi, mereka menenteng kamera DSLR terkini, lantas Menul jadi sasarannya. Saya cemburu. Rupa-rupanya, rasa ‘ingin memiliki’ mulai timbul. Saya gagap dengan gejolak itu. Antara cinta dan ego perbedaanya setipis rambut dibelah tujuh.

Sesampai lokasi camping kami masing-masing mendirikan tenda. Firasat saya ternyata benar, siapa yang membawa kemah sendiri, boleh semaunya memilih rekan yang ikut bermalam. Tentu saja saya memprioritaskan Menul dan dua teman perempuan lainnya. Tenda saya pas untuk empat orang. Lagian buat bangsa cowok, silahkan saja istirahat di tenda peleton yang disediakan panitia. Toh ukurannya extra besar kan?

Namun saya harus bekerja keras menggali parit kecil di sekeliling kemah, serta memasang ijuk sebagai penghalang ular dan binatang lainnya yang konon -masih sering berkeliaran. Menul membantu menaburkan garam di sekitar, menurut dia buat jaga-jaga agar tidak kesurupan. Jadilah kami berdua bahu membahu. Sementara dua rekan lain memasak makanan dan minuman hangat. Perut kami mulai teriak-teriak melaknat galau.

Nah, lelah dan rasa lengket hinggap di sekujur, membuat kami memastikan mandi sore. Panitia menyediakan fasilitas dengan membangun semacam gubuk bambu sederhana. Bentuknya berbaris enam memanjang. Jadwal membilas badan bergiliran. Cewek-cewek terlebih dahulu, cowok belakangan.

Kami bergantian membasuh tubuh, tapi sebagian teman laki-laki tak sabar akan leletnya perempuan mandi. Mereka memilih menceburkan diri ke sungai, bersuka ria ciprat-cipratan air. Saya juga mau sebenarnya, namun sudah janji menemani Menul. Jaket dan tasnya ada di saya, maka saya menyabarkan diri menunggu. Sambil jongkok merokok, tujuh meter dari jajaran gubuk.

Tiba-tiba: BRAAAAAAKKKKKKKSSS….!!!

Salah satu dari pintu gubuk terbuka lebar! Nyaris roboh! Cilaka!

Sesosok wanita bugil terlihat dari tampak belakang, dia berusaha secepatnya menanggulangi pintu bambu yang payah. Seketika saya membuang muka secara refleks, serta bangkit lekas menjauh. Yang saya ingat, perempuan ‘polos’ itu memakai ikat rambut warna magenta. Siapa lagi kalau bukan Menul?

(Saya agak menyesal mengapa ‘melengos’ secepat kilat.)

Malam hari acara perkemahan ramai dengan permainan. Bermain gitar, bernyanyi-nyanyi, menari-nari, dan makan-makan di seputaran api unggun. Habis itu masing-masing menuju beranda tenda. Ada yang lanjut gitaran, ada yang tidur-tiduran sambil bercanda. Menul duduk di sebelah saya, mengatasi dingin hawa yang mulai menusuk. Sambil merapat badannya ke saya, dia bisik bertanya,

“Kamu tadi liat aku nggak pakek apa-apa ya..To?”

“Enggakkkk……emang kenapa?” jawab saya pura-pura tidak tahu (jantung berdegup keras).

“Tadi pintu gubuknya terbuka, malahan hampir roboh…!”

“Oh ya?…Wah aku nggak lihat, cuma denger bunyi gedubrakan di sana….”

“Ah, untung deh kalau gitu…. Sialan tuh gubuk reyot! Payah! Semprul!” Menul menggerutu.

Rasanya ingin meledak tertawa mendengarnya, namun sekuatnya saya tahan. Rahasia tragedi gubuk mandi saya simpan rapat-rapat dan terbawa tidur. Bersama Menul dengan selimut sejuk gunung, melarut selaksa rasa, bersayup desah desau dari hangatnya kedua mulut kami. Entahlah apa yang ada di hati dua teman kami lainnya, yang sama-sama melewati malam dalam satu tenda. Entahlah……..saya tak mampu berpikir lagi.

masa awal mahasiswa, bagai terang letup kembang api

sekejap menerangi angkasa mimpi, lantas segera padam sepi

namun meninggalkan samudra kenangan tak bertepi.

Artikel Terkait

Hidup memang membutuhkan motivasi, karena hidup adalah perjuangan maka kita harus mempunyai semangat juang yang tinggi.