Monday, May 1, 2017

Pertama Ciuman dan Meraba-raba Pacar

Pertama Ciuman dan Meraba-raba Pacar - Saya pernah punya pacar namanya Tata, kulitnya coklat muda, badannya kurus tinggi, dadanya rata. Teman-teman menyebutnya Kutilang Darat: kurus tinggi langsing dada rata. Tapi saya tak keberatan dengan semuanya, sebab Tata gadis baik hati dan pandai di kelas. Selain itu dia polos bagai tak berdosa dan jarang jajan di sembarang tempat. Nama lengkapnya adalah Tatiana Diandrani. Tata ogah dipanggil Tati, tak mau pula disapa Tia atau Tian atau Ana. Entah kenapa lebih suka dengan sebutan Tata.

Pertama Ciuman dan Meraba-raba Pacar

Padahal menurut teman-teman, nama Tata kurang seksi, atau memang dia merasa dirinya tidak seksi, maka Tata nyaman dengan nama itu. Padahal lagi, seksi atau tidaknya perempuan bukan melulu masalah tubuh, wajah atau ukuran dada sekalipun. Senyum Tata sebenarnya, menurut saya seksi, karena bibirnya seperti basah terus menerus. Padahal dan padahal, dia tidak mengeluarkan liur sepanjang waktu. Tidak juga memakai lip gloss yang sering digunakan tante-tante yang saya lihat di Mall.

Jadi, bibir Tata memang sudah dari sananya ranum dan segar serupa delima merah. Saya heran, kok hanya diri saya yang berpikir demikian, sedang teman-teman lain tak melihatnya. Apakah mata saya yang berhalusinasi sebab jatuh cinta dengan dirinya? Atau karena bibirnya begitu memesona maka saya naksir Tata? Setahu saya mata ini jarang salah, setidaknya itu yang Ibu Guru katakan, manakala memberi ganjaran tinggi terhadap nilai-nilai menggambar.

“Mata kamu berbeda dengan anak-anak lain, meski sedikit sipit dengan bulu mata kemayu, kamu bisa melihat apa yang orang lain tak dapat,” Ibu guru selalu berkata begitu. Ibu Guru yang manis, Tutu namanya. Tumirah Sutukijan lengkapnya.

Herannya setiap Ibu guru Tutu mengatakan hal tersebut, dia juga terlihat cantik. Saya lama-lama curiga, jangan-jangan orang cantik karena tutur katanya yang membesarkan hati. Bukan sebab fisik semata-mata seperti yang dibicarakan di majalah atau sinetron. Ini fenomena.

Demikian yang terjadi dengan sosok Tata dan bibirnya. Juga wajahnya yang semanis rekah pagi, membuat saya semangat menempuh hari-hari yang sebenarnya sangat membosankan. Terkungkung di kelas dan bertempur dengan gusar rasa menekuni pelajaran sekolah. Tidak ada hal yang menarik selain Tata, Ibu guru Tutu dan pelajaran menggambar itu sendiri.

Disebuah sabtu malam, saya apel ke rumah Tata. Mungkin kunjungan yang keempat setelah kami jadian. Saat itu rumahnya kosong, Papah dan Mamahnya sedang pergi ke acara pernikahan. Saya leluasa berbincang dan berpegangan tangan dengan dia. Kadang saya berpikir, buat apa ya pegangan tangan? Mirip di penyeberangan jalan. Namun kami begitu terus selama bercerita dan bercanda.

Tiba-tiba hasrat mencium dirinya tak dapat dielakkan lagi, kamipun bersentuhan bibir agak lama. Sambil mencari-cari cara yang paling elegan dan romantis, kami menggerak-gerakan kepala mirip tanda silang. Hidung kami berdua kebetulan bangir, jika sama sudut ciumannya, ujung hidung bertabrakan. Dan itu tidak nyaman. Seperti dua manusia tolol rasanya malam itu.

Ketololan berlipat ganda manakala setelah kira-kira sepuluh menit bibir kami bersentuhan, lukisan di belakang Tata jatuh. Menimbulkan bunyi yang cukup mengagetkan. Lukisan besar koleksi Papahnya, runtuh ke lantai, dan saya panik bukan kepalang. Masalahnya saya tahu itu karya mahal, ada tanda tangan pelukis terkenal di sana. Affandi, sang maestro yang namanya tersohor dipelajaran kesenian sekolah. Saya kuatir rusak atau robek sebab terjatuh.

Akhirnya kami bersibuk ria membenarkan. Paku penyangganya copot. Hampir saja kanvas seukuran dua kali satu meter itu terkena patung prajurit romawi membawa tombak tajam. Sial betul saya. Urusan pacar jadi melebar kemasalah penyelamatan sebuah sejarah seni rupa.

Walau kami sembari tertawa-tawa mengerjakannya, dan kami tak terlampau serius memikirkannya.

Namun cukup membuat keringat dingin membasahi sebagian badan saya, juga Tata. Setelah terpasang kembali, kami sibuk meneliti apakah letaknya seperti semula dan tidak miring, atau mencang-mencong tak keruan. Saya mendapat pelajaran penting: jangan berciuman berdiri! Apalagi berdekatan dengan tembok. Bahaya!

Jam menunjuk pukul 9.30 petang, saya segera pamit pulang. Sebelum orang tuanya datang dan melihat saya sebagai manusia pendosa. Sekelebat rasa bahagia bercampur tegang silih berganti memenuhi perasaan. Cukup membuat saya sulit tidur malam.

Setelah melewati akhir minggu yang seru, tibalah hari senin kembali sekolah seperti biasa. Pelajaran di hari itu tidak ada menggambar, namun saya tetap semangat karena ingin bertemu Tata. Dan dia pun terlihat semakin malu-malu, sering tersenyum meski tak ada hal yang lucu dalam pembicaran kami. Untung berduaan sebangku, sehingga setiap jam pada saat sekelas dengannya begitu berharga. Paling tidak, dapat membunuh rasa bosan saya terbelenggu oleh nasib , sebagai pelajar, berseragam, banyak PR, dan harus mendengarkan hal-hal yang tidak menarik.

Saya tak sabar menunggu malam minggu berikutnya dan berikutnya, hingga masa sekolah berakhir, kami lulus SMA. Entah berapa banyak ciuman kami lakukan sepanjang pacaran. Yang jelas saya tak berani menjelajahi lebih lanjut kontur tubuhnya apalagi dadanya. Karena Tata pernah mengirm surat kepada saya yang isinya kurang lebih begini:

“Aku salut sama kamu, bukan tipe cowok yang suka grayang-grayangin cewek. Dan lagi jangan coba-coba ya, nanti kamu kecewa. Besar dadaku tak lebih dari punya kamu…”

Nama saya Toto. Saya laki-laki dewasa sekarang. Semasa SMA pernah diajar oleh Ibu Guru Tutu. Pacar saya saat itu Tata dan saya tak pernah sekalipun menyentuh Tete-nya. Kini saya mahasiswa semester tiga perguruan tinggi seni rupa. Tiga hari lalu saya jadian sama cewek sekampus, namanya Titi. Saya kurang tahu bagaimana selanjutnya, hanya saja saya sulit menghindar dengan urusan yang berbau huruf ‘T’, sampai detik ini.

Artikel Terkait

Hidup memang membutuhkan motivasi, karena hidup adalah perjuangan maka kita harus mempunyai semangat juang yang tinggi.