Monday, May 1, 2017

Kisah Roman Percintaan Anak Muda

Kisah Roman Percintaan Anak Muda - Sinopsis: Mudah saja bagi Ray meniduri banyak perempuan hanya dalam satu minggu. Hari pertama dengan Cynthia, hari ke dua dengan Lenvy, dan hari ke tiga dengan Reni. Moogie menyusul berikutnya. Masing-masing perempuan mempunyai sisi menarik di luar urusan ranjang, yang enak kita selami. Tapi lebih dari itu, Ray pun memberikan sesuatu bekal yang amat berharga bagi Ella dalam menghadapi mantan suaminya yang mencoba memeras, juga persahabatan yang erat dengan Jay, bahkan kepada pak Wardoyo, satpam di kantor. Itulah Ray, sang kharismatik dalam segala hal!

Kisah Roman Percintaan Anak Muda

Hanya satu membran elastis yang membedakan antara kebahagiaan dan kesedihan. Sahabat Ray, Dita, pernah berkata, "Orang hanya bahagia saat duka itu tiada, dan berduka saat bahagia itu hilang. Tak ada bahagia, maka tak ada susah, begitu pun sebaliknya. Hukum alam yang mudah dicerna. Tapi apa yang terjadi bila ada seseorang yang ingin dan bahkan mampu berada di ambang batas antara keduanya?"

Orang itu adalah orang paling cerdas di dunia. Sekaligus menjadi orang terdingin di dunia. A human without soul. A zombie.

Selamat Pagi Cinta
(enam dari tujuh hari yang dilalui Ray dalam hidupnya)

"Bunga-bunga di tamannya, banyak rupa dan warna
Ia cari sendiri, ia tanam sendiri
Dirawat dan dimanja, disayang dan dicinta
Tumbuh dan berkembang, takkan jenuh dipandang
Namun bunga tetap bunga, akan lenyap bersama kala
Walau `kan muncul rindu, namun tanah tetap gembur
Dari makamnya akan muncul, rupa-rupa bunga baru-baru
Dan tamannya `kan tetap indah, banyak rupa dan warna
Suguhkan sejuta bahgia, kelanjutan tiada putusnya"

DAY 1 Cynthia, girl with love


Yang bilang kalau Ray adalah maniak seks, berarti ia salah besar. Ray bukan maniak. Ia tidak pernah mencuri pakaian dalam, ataupun mengoleksi ribuan film dan gambar p0rno. Ia tidak masturbasi tiap sepuluh menit. Dan ia tak pernah memperkosa. Tapi yang mengatakan Ray menggemari seks, berarti ia benar. Ray menikmati seks, seperti ia menikmati makan dan minum. Hanya tidak terlalu, secukupnya saja.

Ray menarik Marlboronya dari bibir dan tertawa.

"Hahaha. Tega benar. Aku kan manusia normal."
"Manusia normal kok bercintanya setiap hari?"
"Cut! Tidak setiap hari!"
"Iya. Lima kali seminggu dengan orang yang berbeda."
"Itu... iya juga yah?" Ray berkata, menggaruk-garuk rambutnya yang sudah mencapai bahu. Suatu kebanggaan tersendiri bagi Ray, memiliki rambut yang panjang dan bagus. Itu mengapa ia tak begitu sedih saat pekerjaan barunya menuntut ia untuk memakai dasi, tapi merana saat ia disuruh memotong rambutnya.

Tapi itu tiga bulan yang lalu. Sekarang, tak ada satupun yang mempermasalahkannya. Ray sudah bisa membuktikan bahwa meskipun dandanannya urakan, tapi otaknya tetap lebih encer dibanding orang-orang berambut pendek atau botak sekalipun.

"Tapi maniak kan orang gila. Aku ngga gila tuh. Aku hanya menikmati saja. Seks kan enak," kata Ray lagi. Cynthia tertawa, bangkit dari tempat tidur, lalu setengah menyeret selimut melangkah menuju kamar mandi.

Ray menatap punggung mulus gadis itu dengan tersenyum. Cynthia memang pasangan yang menyenangkan, setidaknya sampai tadi pagi. Gadis itu tak pernah mengeluh dan tak pernah menuntut lebih dalam hubungan mereka. Just sex, itu yang mereka sepakati saat pertama kali mereka bercinta sebulan yang lalu. Dan Cynthia cukup bisa memegang komitmennya, meskipun Ray tak jarang mendengar gadis itu mengigau dalam tidur dan berbisik, "Jangan pergi..."

Gadis-gadis itu mencintainya. Mencintai kehangatannya. Bukan just sex, meskipun itu yang mereka setujui mula-mula. Mereka yang sudah pernah dipeluknya semalaman tanpa bercinta. Ray tahu itu. Tapi terikat bukan sesuatu yang diinginkannya, dan ia selalu menekankan pada gadis-gadis itu untuk paham bahwa ia tak bisa membalas cinta mereka. Terkadang Ray merasa bersalah, tapi itulah
dirinya.

Ray bangkit dari tempat tidur, mematikan rokok yang masih tersisa setengah. Tadi pagi, setelah Cynthia membangunkannya dengan mengulum penisnya, setelah mereka bercinta, gadis itu memulai perbincangan yang menyedihkan.
"Ray, I think I'm stupid."
"Stupid?"
"Ya. Sometimes you make me feel like I can't live without you."
"Wajar."
"See? Bahkan aku ngga bisa marah walau kamu cuman nanggapin begitu."
"Lalu? Aku bukan seorang yang romantis. Dan kurasa perasaan itu wajar datang setelah make love."
"Oh ya? Kamu juga begitu? Kurasa tidak. Kamu punya banyak sekali wanita di hidupmu. Aku mungkin cuman salah satu teman semalam. Mungkin akulah si Senin, dan si anu jadi si Selasa. Lalu si Kamis."
"Lalu di mana stupid-nya?"
"Stupid-nya? Because I let it be."
"What? The feeling? So don't be."
"How? Aku bukan kamu. Aku ngga punya segudang harem. Aku cukup satu."
"Ya, blame me for that."
"You talk like it's an easy thing to do."
"Semua mudah kalau mau."
"Aku bukan maniak."
"Aku juga bukan."
Dan Cynthia terdiam, memainkan jemarinya di dada telanjang Ray. Sebelum akhirnya mengatai Ray sebagai maniak seks.

Ray cukup kecewa dengan perbincangan itu. Itu berarti Cynthia sudah memakai perasaannya sebagai seorang wanita, dan bagi Ray tak ada yang paling merepotkan daripada mengalihkan perasaan itu dari si gadis. Lalu hanya tersisa dua jalan, yang pertama adalah meninggalkan Cynthia sebelum gadis itu bertambah bodoh, dan yang kedua membicarakan baik-baik dengan resiko mengarah ke jalan pertama. Bagaimanapun juga, kehilangan Cynthia adalah sesuatu yang patut disayangkan.

"Cyn, boleh ikut?" Ray berbisik di balik tirai plastik.
"Jangan," terdengar suara Cynthia di sela gemerisik air dari shower.
Ray tak mengatakan apapun. Lalu perlahan ia mendengar suara isak tangis dari balik tirai. "Cyn, jangan begitu," ucap Ray, meraba tirai dengan jemarinya.
"Kenapa ngga pulang saja. Aku sedang bodoh. Aku ngga mau dilihat siapapun."
"Cyn...."
"Seks nikmat, kan? Aku hanya pemberi kenikmatan, kan? Iya. Begitu juga kamu. Tapi aku sedang bodoh, sampai lupa hal itu. Jangan tertawa, Ray. Jangan tertawa...."
"Kamu kenapa sih? Dulu-dulu ngga pernah seperti ini?"
Lama tak ada sahutan dari balik tirai. Suara air dari shower dan isak lamat-lamat menjadi pengisi kesunyian antara Ray dan Cynthia.

"Ray...Albert ngelamar aku ke Papa. Kamu kira apa yang harus kukatakan?"
Ray hanya diam. Pemuda itu membayangkan Albert, pemuda bertubuh tambun bermata sipit, yang cinta buta pada Cynthia. Tidak bahkan Albert menjauhi Cynthia, setelah si gadis mengatakan bahwa ia sudah tidak perawan sejak SMA. Bahkan Albert semakin bertekad untuk menunjukkan cinta tulusnya pada Cynthia.

Dan sikap keras kepala Albert pula lah yang membuat Cynthia lebih memilih menghilang bersama Ray, daripada menghadapi Albert di rumahnya.
"Katakan apa yang ada di hatimu," bisik Ray, merasa sedikit kecewa.
"Apa yang bisa kukatakan? Kalau aku sudah punya kamu? Kalau aku akan membayar semua hutang budi Papa padanya kelak? Ray, aku tidak berasal dari keluarga yang bebas. Tidak se-naif itu.... tidak se-naif itu..."
"Cyn..."
"Lagipula, siapa kamu? Who the hell are you?"
"Kamu kok jadi bodoh seperti ini sih?" ucap Ray, nadanya sedikit keras, "Kamu punya kehidupan! Dan tak ada seorang manusiapun yang berhak untuk mengaturnya! Kalau kamu mau, semua bisa! Kamu cukup bilang...ugh!!"

Cynthia menyingkap tirai, memutus kalimat Ray dengan menempelkan bibir basahnya di bibir pemuda itu. Ray membiarkan matanya tetap terbuka. Pemuda itu menyaksikan kedua mata Cynthia yang terpejam, dan sungai air mata yang menyatu dengan basah air di wajah si gadis. Refleks, Ray mengangkat kedua lengannya dan memeluk tubuh Cynthia. Gadis itu menarik kepalanya beberapa saat kemudian.

"Aku cinta kamu! Aku cinta.. aku ngga mau munafik...," isaknya.
Ray memeluk tubuh gadis itu erat-erat. Tak ada nafsu di sana, meskipun ketelanjangan tubuh mereka saling beradu. Cynthia tersedu di dada Ray, jemarinya meremas lengan Ray.

Ray membiarkan Cynthia menangis beberapa menit, sampai akhirnya pemuda itu mendorong tubuh si gadis sedikit menjauh.
"Cyn, aku pulang."
Cynthia menyeka matanya dengan punggung tangan.
"Jangan pergi, Ray...," isak si gadis.
"Kalau aku ngga pergi sekarang. Nanti kamu tambah bodoh."
"Aku suka jadi bodoh," bisik Cynthia. Ray menghela nafasnya.
"Semua orang suka jadi bodoh kalau sedang jatuh cinta."
Cynthia tak menyahut, lengannya berusaha merengkuh Ray, tapi pemuda itu melangkah mundur. Cynthia menatap Ray, dan pemuda itu tersenyum padanya.
"Cyn," ucap Ray, "aku ngga suka cewek bodoh."
"Ray..."
"Aku pulang."
"Ray...."
"Kalau sudah pintar, telpon aku di kantor."
"Ray...."

Ray melangkah keluar dari kamar mandi, menutup pintu di belakangnya. Ray memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Ia tak suka terlibat dalam urusan semacam ini. Ia tak pernah menginginkan seorang gadis untuk jatuh cinta padanya. Ray tak ingin seorang gadis menjadikannya sebagai penentu dalam memilih jalan hidup. Ray tak ingin menerima tanggung jawab sebesar itu. Ia tak suka kebodohan yang ada dalam kata cinta.

Ray baru saja selesai mengenakan kemejanya, saat pintu kamar mandi terbuka. Pemuda itu menoleh dan melihat Cynthia dengan berbalut handuk tersenyum padanya. Ray membalas tersenyum, melangkah mendekati gadis itu. Cynthia meraih dasi di tangan Ray, lalu mulai mengalungkannya di leher si pemuda.

"Mungkin aku akan menariknya, membunuh dirimu, lalu membunuh diriku sendiri," bisik Cynthia, seraya jemarinya bergerak lembut merapikan simpul dasi.

"Oh, silahkan saja. Tak ada bedanya antara hidup dan mati. Orang bersyukur karena hidup penuh warna. Dan orang mati bersyukur karena warna-warna hidup tak semuanya indah, bahkan terkadang terlalu buruk untuk dilihat."
Cynthia menekan simpul dasi ke atas, sementara satu lagi tangannya menarik ujung dasi ke bawah. Ray memejamkan matanya sambil tersenyum.
"Aku serius," desis Cynthia.
"Aku juga," balas Ray berbisik.
"Tapi aku memilih untuk tidak jadi orang bodoh," bisik Cynthia. Dan ikatan di leher Ray mengendur. Pemuda itu membuka matanya, melihat senyuman tersungging di bibir Cynthia.
"Cepat sekali berubahnya?" tanya Ray sambil menyeringai.
Cynthia menarik tangannya dan berkata, "Mungkin bodohku membuat aku pintar. Aku bodoh karena mencintaimu. Kamu tak suka orang bodoh. Jadi kupikir aku lebih baik tetap berusaha untuk pintar."
Ray tertawa.
"Aku takkan pernah bisa miliki kamu ya, Ray?"
"Ngga."
"Suatu saat nanti?"
"Ngga juga."
"Oh s'well, what sould I do about you?"
"Be smart."
Cynthia meraih bibir Ray dengan bibirnya.
"Jangan pergi sampai siang nanti..." desah gadis itu.
"I won't," bisik Ray, lalu menarik handuk yang menutupi tubuh Cynthia.
Mereka bercinta. Lagi.

Ray terbangun saat jam dinding menunjukkan pukul setengah empat sore. Pemuda itu menoleh dan mendapati Cynthia berbaring memunggunginya. Ray tersenyum dan mendekatkan wajahnya, lalu mengecup lembut pundak gadis itu.
"Good bye, lover," bisik Ray. Cynthia tak bergerak.

Ray lalu mengangkat tubuhnya, bergerak selembut mungkin turun dan meraih pakaian yang berserakan di lantai. Sepuluh menit kemudian Ray sudah berada di depan gedung apartemen Cynthia. Menatap silhouette gadis itu di balik jendela, Ray tersenyum. Firasat pemuda itu mengatakan bahwa itu lah terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di tempat itu.

DAY 2 Lenvy, girl with passion


Tetes-tetes air hujan masih juga deras menerpa bumi kala Ray berhasil menyesakkan tubuhnya di antara kerumunan orang yang berteduh di emper toko alat-alat olahraga itu. Pemuda itu mengeluh, membersihkan tetes air yang menempel di wajahnya. Beberapa pasang mata memandangnya dengan rasa ingin tahu.

Ray memang mencolok di antara kerumunan orang itu. Wajahnya yang bersih tak menunjukkan ciri khas pejalan kaki, begitu pula pakaian necis yang ia kenakan. Hanya rambut gondrongnya yang membuat ia tampak sedikit kumuh, namun tetap saja berbeda dengan orang-orang yang berteduh bersamanya.

Ray mengerti, bahwa beberapa orang masih menyimpan keberadaaan jurang kesenjangan sosial itu dalam hati mereka. Apalagi sejak terjadinya krisis moneter di akhir 1997. Banyak kejahatan yang terjadi berdasarkan hal itu. Tak ada yang bisa disalahkan dari pola pemikiran yang demikian, hanya sistem pemerintahan yang buruk, itu saja, yang membuat perbedaan begitu mencolok di antara lapisan masyarakat.

Yang miskin terjun bebas, yang kaya cuma terpeleset. Yang kaya melarikan diri, yang miskin memprotes dengan menaikkan angka kriminalitas. Suatu kewajaran sekaligus kenyataan yang menyedihkan. Dan Ray tak bisa memungkiri bahwa ia termasuk salah seorang yang `cuma' terpeleset gara-gara krisis moneter tersebut, walaupun ia bukan termasuk yang melarikan diri.

"Permisi, Pak, bisa pinjam korek?" pemuda itu bertanya sambil tersenyum pada salah seorang bapak di sampingnya. Bapak itu, tentu saja, memandang penuh selidik, namun begitu matanya bertemu dengan senyum simpatik Ray, si Bapak merogoh sakunya dan mengeluarkan sekotak korek api.

Ray menerima kotak itu dan sudah bersiap menyalakan rokok yang sudah terselip di bibirnya, saat seseorang mendesak tubuhnya dan membuat rokoknya terjatuh.

"Hey!" Ray berseru, lebih pada dirinya sendiri. Pemuda itu membungkukkan tubuhnya dan memungut batang rokok yang untungnya tidak terkena genangan air.

"Sial, untung ngga basah. Rokok mahal," gumam pemuda itu, menyelipkan kembali batang rokok itu ke sela bibirnya. Sikapnya yang wajar, bahkan cenderung kocak membuat beberapa pasang mata yang semula menatap iri menjadi lebih hangat.

"Ini, Pak," ucap Ray, mengembalikan kotak korek api pada Bapak di sebelahnya, yang menerima sambil tersenyum dan menganggukkan kepala.

Ray menatap tirai hujan yang membatasi emper toko dengan dunia luar. Lirikannya berusaha menembus tirai tersebut, mengamati mobil-mobil yang lalu lalang di depan halte bis. Ray berpikir kesal, seandainya saja ia tadi tidak berusaha melarikan diri dari Rusdi, mungkin ia lebih memilih menunggu di halte tersebut, bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Tapi tentu saja ia tidak ingin berlama-lama berbincang dengan Rusdi, pria yang selalu punya semangat berlebih untuk membanggakan dirinya sendiri itu, yang tak pernah mau mengaku kalah darinya dalam urusan wanita. Tadi, tepat sebelum Rusdi mulai berceloteh tentang pengalaman seksnya bersama Ida, yang Ray tahu bahwa hal itu tak mungkin terjadi karena ialah yang sudah meniduri gadis itu tanpa sepengetahuan siapapun, Ray melarikan dirinya ke emper toko alat sepatu. Malas benar ia menanggapi omong kosong Rusdi.

Ray memang begitu, ia sangat membenci orang-orang yang hanya bisa omong besar tanpa bisa membuktikan omongannya sendiri. Bahkan Ida pernah berkata, "Siapa? Rusdi? Gila apa? Orang itu kasar dan menyebalkan kalau diajak bicara. Bukan tipe cowok yang enak diajak kencan."

Padahal kalau dihitung-hitung, Ida bukanlah gadis nomor satu di kantor, dan mendapatkan Ida bagi Ray jauh lebih mudah dari membalikkan telapak tangan.

Dari jauh, Ray bisa melihat raut tak senang orang-orang yang berdiri di sebelah Rusdi. Merasa geli sendiri, pemuda itu menatap arloji di pergelangan tangannya.

Ini sudah lebih dari lima belas menit, pikirnya dalam hati. Kemana gadis itu?

Senyum Ray mengembang saat melihat sebuah sedan ungu berhenti di halte bis. Pemuda itu mengangkat tas kulitnya ke atas kepala, dan berlari menembus tirai hujan. Ray hanya tersenyum sinis, saat melihat Rusdi menatapnya dengan rasa ingin tahu.

Pintu mobil terbuka, dan semua orang bermata awas pasti bisa melihat seraut wajah ayu dengan senyum mempesona di belakang kemudi.

"Ciao, Rus," ucap Ray, memasang seringai terbaiknya. Rusdi terdengar mendengus, sementara matanya tak lepas dari sosok di belakang kemudi. Ray sebetulnya ingin memamerkan gadis itu pada Rusdi, sekedar ingin menyatakan bahwa `kamu tak ada apa-apanya, boy', namun kondisi alam tak mengijinkannya untuk berbuat demikian. Begitu Ray menutup pintu, gadis ayu itu menekan pedal gas.

"Sori, Ray. Jalanan macet benar tadi," ucap Lenvy, gadis di belakang kemudi, pada Ray yang sibuk menyeka wajahnya dengan tissue. Ray masih juga tersenyum-senyum, "Ah, ngga apa-apa."
"Kenapa? Kamu nampak senang?"
"Tidak. Malah kecewa, soalnya aku ingin memamerkan kamu pada rekan-rekanku."
Gadis itu tertawa dan berkata, "Konyol benar kamu."
"Biar saja. Kan asik, ngenalin cewek cakep."
Lenvy tak menyahut ucapan Ray. Saat itu jalanan memang lebih padat dari biasanya.

"Jadi, bagaimana kerjaanmu hari ini?" tanya Lenvy, memecah keheningan.
"Ah, baik-baik saja. Kamu?"
"Aku? Parah. Orderan begitu banyak, sementara anak-anak maunya menikmati liburan," dan Lenvy mulai bercerita tentang agen modelling yang dikelolanya bersama sang kakak. Ray mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Lalu, kamu saja yang turun," ucap Ray kemudian. Lenvy tertawa.
"Aku? Ngga ah. Aku lebih suka menikmati liburan."
"Nah loh?"
"Iya. Sama kamu," ucap Lenvy, sembari matanya melirik ke arah Ray.
Pemuda itu hanya tersenyum dan berkata, "Jangan begitu. Aku tahu kamu orang sibuk. Aku ngga mau jadi pengganggu."
"Pengganggu? Siapa bilang kamu mengganggu?"
Ray tertawa, memilih untuk tidak meneruskan perbincangan itu.
"Jadi, Ray. Kemana kita sekarang? Ke rumahmu atau ke rumahku?"
"Wah? Aku menangkap nada yang bandel di sana."
Lenvy terkekeh. Saat itu lalu lintas sedang macet total. Lenvy memalingkan wajahnya pada Ray, menatap mata pemuda itu sambil tersenyum. Sesaat kemudian gadis itu memiringkan tubuhnya.

"Kiss me?" bisiknya lirih. Ray menggerakkan kepalanya, menemukan kelembutan bibir gadis itu tak berapa lama kemudian. Bahkan Ray bisa merasakan Lenvy lebih bergairah daripada biasanya. Gadis itu melumat bibir Ray, sambil sesekali memasukkan lidahnya ke dalam mulut si pemuda.

Tet-teeeett!!

Lenvy menarik bibirnya dan tertawa. Ray memandang ke arah jalanan yang lengang di depan mereka, dan kepalan tangan yang keluar dari dalam mobil di belakang mereka, lalu ikut tertawa.

"Ke rumahku ya, Ray?" bisik Lenvy tanpa menoleh.
Ray tak menyahut. Ia memang sedang jenuh setelah bekerja seharian. Dan seks sudah pasti merupakan obat yang mujarab untuk mengusir kejenuhan, seperti yang Ray yakin benar sama dengan yang ada di pikiran Lenvy.
"Kamu yakin?"
"Sini, kamu yang nyetir," Lenvy berkata, membelokkan mobilnya ke salah satu gang pinggir jalan dan menghentikannya. Ray tertawa, membuka pintu mobil dan bergegas menuju sisi mobil yang lain.

Selalu saja begitu, Ray menyetir sampai ke rumah, sementara Lenvy memuaskan hobi seksualnya. Foreplay, begitu Ray dan Lenvy menyebutnya, dan tentu saja orang-orang yang lain juga.

Ray dan Lenvy pertama kali berjumpa di sebuah seminar, tepat sebulan yang lalu. Waktu itu Ray ditugaskan untuk mewakili kantornya, mendengarkan semua omong kosong para pakar periklanan ibukota. Ray yang memang tak pernah ambil pusing dengan ide-ide brilian orang lain, lebih suka menghabiskan waktunya dengan melirik gadis-gadis eksekutif yang banyak berseliweran selama seminar berlangsung. Satu lirikannya menemukan sosok Lenvy, dengan bibir bawah si gadis yang tergigit saat beradu pandang dengannya.

Beberapa lirikan lagi, dan sebuah senyum menggoda, gadis itu tak menolak saat Ray melangkah mendekatinya.

Lenvy, sosok wanita karir jaman millenium. Muda, cantik, dan penuh gairah. Usianya yang sebaya dengan Ray, membuat semua perbincangan terasa lebih menyenangkan. Gayung bersambut saat Ray menyinggung masalah sex after lunch, euforia kalangan eksekutif muda yang workaholic. Bahkan Lenvy, yang semula mengatakan bahwa ia `tidak terlalu' menyukai hal itu, bukan `tidak pernah' melakukannya, terpaksa mengakui bahwa Ray membuatnya ketagihan, setelah pemuda itu menyetubuhinya seharian suntuk di sebuah kamar hotel.

Ray tahu, penilaian Lenvy padanya tak jauh berbeda dengan penilaiannya sendiri. Khusus kalangan orang muda, Ray adalah sosok yang didambakan semua gadis. Mapan, mempesona, dan memabukkan. Hubungan mereka pun berkembang menjadi mutualisme, saat Lenvy menyanggupi untuk menyediakan models agency-nya sebagai partner bayangan biro periklanan tempat Ray bekerja.

Semua senang, tak ada yang merasa dirugikan.

****
Anik hanya melongo, seperti biasa, saat menyaksikan majikannya masuk ke dalam rumah dengan menggandeng lengan Ray.
"Ayo, Ray," desis Lenvy tak memperdulikan tatapan bertanya dari Anik. Nafasnya terengah. Ray menurut saat gadis itu menariknya menuju kamar tidur. Lenvy punya hasrat yang besar, bahkan terkadang Ray merasa gadis itu mengerikan di tempat tidur. Lima menit yang lalu, Lenvy masih mengulum penisnya dengan ganas di dalam mobil, dengan sentuhan luar biasa yang nyaris saja membuatnya ejakulasi di dalam mulut si gadis.

Sekarang pun Ray harus mempertahankan nafsunya yang bergolak hebat, saat Lenvy menciumi seluruh bagian tubuhnya sambil melucuti pakaian yang melekat di tubuh mereka berdua.

Tak berapa lama kemudian, hanya erangan Lenvy yang terdengar di dalam kamar.

****
Ray terbangun, mendapati suasana kamar yang remang-remang. Pemuda itu mengeluh dalam hati, saat merasakan sekujur tubuhnya yang penat. Matanya lalu memandang ke sekeliling kamar. Tak ada sosok Lenvy dimanapun. Bangkit dari tempat tidur, Ray menyambar celana panjangnya di lantai. Sedikit terkejut juga ia melihat arloji di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Belum pernah ia berada di rumah Lenvy sampai selama itu.

Ray memandang kemeja yang tersampir di meja dekat pintu. Pemuda itu tersenyum geli. Lenvy nyaris saja membuat kemeja Kenzo kesayangannya sobek tadi. Gadis yang luar biasa, pikir Ray lalu melangkah mendekati pintu. Baru saja hendak meraih kemejanya, mendadak pemuda itu menangkap suara-suara ganjil dari luar kamar. Ray mendekatkan telinganya pada daun pintu. Alisnya berkerenyit.

"Kamu!! Jangan!!"
PRANG!!

Nyaris saja Ray melompat saking terkejutnya. Apa yang tengah terjadi? pikir pemuda itu dalam hatinya. Sedikit curiga, Ray memutar gagang pintu. Pintu membuka sedikit, tapi Ray hanya bisa melihat ruang tamu.
"Beb. Jangan, Beb. Aku mohon. Jangan," terdengar suara seorang gadis. Ray yakin seratus persen kalau itu adalah suara Lenvy.

"Apanya yang jangan-jangan?" Kali ini suara seorang pria, berat dan kasar. Tanpa sadar Ray mengulurkan tangannya ke samping, meraba permukaan meja, sedikit kecewa saat hanya menemukan sebuah vas bunga.
"Aku cinta kamu, Beb. Hanya kamu. Sumpah! Sumpah!"
Ray menunggu, melacak lagi dengan matanya sosok-sosok yang mungkin terlihat dari tempat di mana ia berada.
"Cinta! Cinta! Lalu siapa yang sama-sama dengan kamu siang tadi? Setan?"
Ray terperangah. Rupanya Lenvy dan orang itu tengah membicarakan dirinya. Dan Ray tak bisa memperkirakan kalau pria itu tahu bahwa ia masih ada di dalam rumah Lenvy. Bagus, pikir Ray dalam hati, sekarang ia dalam kesulitan. Ray menoleh dan menatap jendela kamar. Ia menggerutu dalam hati, seandainya saja ia masih remaja, jendela dan pagar setinggi apapun bukan halangan baginya. Sekarang? Saat rokok dan seks sudah meracuninya terlalu banyak?

Tapi, Ray, bisik hatinya lagi. Kamu akan lari dari masalah?

"Aku cek kamarmu!" Ray mendengar pria itu berkata-kata lagi. Ray menggenggam vas bunga erat-erat di tangannya dan merapatkan pintu kamar.
"Beb! Kamu kok ngga percaya sih? Beb!! Beb!!"
Lalu sebuah pemikiran lain melintas di benak Ray. Kalau ia melibatkan dirinya dalam masalah ini, lalu masalah apa lagi yang akan menantinya? Siapa orang itu saja ia tak tahu. Lenvy juga bukan gadis yang layak untuk ia bela dengan mempertaruhkan nyawa. Berpikir demikian, Ray mengambil keputusan bulat. Ia harus cepat! Pemuda itu meletakkan vas bunga kembali ke atas meja, lalu dengan secepat kilat ia menyambar pakaian, dasi, dan sepatunya.

Ray merinding saat mendapati semak-semak di bawah jendela. Nyaris saja ia menjerit saat salah satu ranting tanaman menusuk telapak kakinya.

"Busyet," desis pemuda itu, lalu terpaksa menundukkan tubuhnya saat terdengar pintu kamar membuka.
"Kan? Aku sudah bilang kalau tak ada siapa-siapa?" Ray mendengar suara Lenvy, tertangkap nada lega di sana. Ray merasa gusar dalam hati, coba saja ia tidak terbangun tadi.

"Tapi mereka semua bilang kalau mereka melihat ka...."
Kata-kata pria itu terhenti. Ray tak bergerak sedikitpun. Beberapa saat lamanya, tak terdengar suara apapun. Lalu lamat-lamat Ray mendengar suara retsleting ditarik. Pemuda itu tersenyum seketika.

Ray menunggu beberapa menit, sebelum akhirnya memastikan bahwa situasi cukup aman baginya untuk berlalu dari tempat itu. Masih sempat Ray mendengar suara desahan nafas dari dalam kamar, sebelum kakinya melangkah. Mereka pasti sudah terlalu sibuk untuk mendengarku, pikir Ray geli. Pemuda itu melangkah menuju teras. Kurang beberapa langkah, di sudut yang tak terkena lampu, Ray mengenakan kembali pakaiannya.

Ray tak terkejut mendapati Anik di depan pintu. Gadis itu menatapnya dengan mata membelalak. Ray mengedipkan matanya dan menghampiri pembantu rumah tangga yang tampak gugup itu.

"Tolong, bilang Nona kalau tas saya masih di mobilnya," ucap Ray sambil tersenyum. Pembantu itu hanya mengangguk.
"Lalu, tolong bukakan pagar?"

Sebelum berlalu dari rumah Lenvy, Ray masih sempat melirik plat dua digit di bumper Jaguar yang diparkir di depan pagar. Melihat ke dalam mobil, Ray tak menemukan siapapun. Ray tersenyum getir. Dari pergaulannya yang luas, ia bisa menebak siapa kira-kira yang berada di dalam rumah Lenvy saat itu.

Ray bersyukur ia tak melibatkan dirinya dalam masalah yang lebih besar daripada sekedar bercinta dengan WIL konglomerat metropolis.
"Edan," gumam Ray, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana, dan mulai melangkahkan kakinya menelusuri trotoar yang belum kering. Entah ia harus merasa bangga, atau merasa bodoh, atau bahkan kecewa. Ray tak tahu. Yang ia tahu ia harus menyiapkan rencana untuk kelangsungan hubungannya dengan Lenvy. Bukan hanya seks, tapi juga urusan kantor.


DAY 3 Reni, girl with flower


Semalaman tidur nyenyak tanpa gangguan, dan hari yang menyenangkan di kantor. Tak heran raut Ray tampak cerah sore itu. Saat ia melangkah keluar dari lift, seorang pemuda menghampirinya, memberikannya keceriaan tambahan dengan mengatakan, "Mas, mobilnya sudah selesai. Sudah saya ambilkan. Ini kuncinya."
Ray menyeringai. Akhirnya, pikir pemuda itu dalam hati, setelah selama seminggu ia menggantungkan dirinya dengan pertolongan orang lain. Ray menepuk pundak office-boy itu dan berkata, "Yos, kamu adalah berkat hari ini."
Usai berkata demikian, Ray meninggalkan Yossi, si office-boy, yang termangu-mangu. Jemari Ray memainkan gantungan kunci sambil kakinya melangkah.

Di basement, Ray melepaskan ikat rambut dan dasinya. Matanya segera menangkap sosok kesayangannya diparkir tak jauh dari pintu keluar. Wardoyo, Satpam empat puluhan tahun yang juga merupakan teman setia Ray saat lembur, berdiri di dekat mobilnya. Wardoyo mengangkat sedikit ujung topinya saat Ray tiba.

"Wah, Mas Ray. Akhirnya si kuda balik juga."
Ray tertawa dan berkata, "Iya, Pak. Masa kesatria ngga punya kuda."
Wardoyo tertawa. Ray memang sosok yang paling ramah yang pernah ia temui selama ia bekerja sebagai satpam di gedung itu. Saat semua orang hanya memandang kepadanya dengan ujung mata, pemuda itu muncul di basement pada hari pertamanya bekerja sambil membawa dua cangkir Nescafe panas.

Saat semua sosok yang dilihat Wardoyo mengingatkannya pada orang-orang yang telah berandil merusakan negeri Indonesia tercinta, Ray malah mengingatkannya pada Cak Giyanto, gerilyawan pembela Kota Pahlawan, idolanya saat masih kanak-kanak. Gondrong dan penuh semangat hidup.

Ray berdiri di samping Wardoyo, menatap mobilnya dengan bangga. Ia masih ingat pada kejadian minggu lalu, saat sahabatnya Hendro meminjam mobilnya dengan alasan menjemput ibunya yang datang dari Lampung.
"Yakin, Ray. Aku pasti pelan-pelan."
Semula Ray tak percaya, mengingat Hendro bukan tipikal orang yang bisa menghargai suatu barang. Tapi melihat wajah Hendro, pemuda yang sudah menipu ibunya dengan berkata bahwa ia sukses di Surabaya itu, Ray akhirnya tak tega dan melepaskan mobilnya dibawa Hendro dengan sejuta wanti-wanti.

Toh akhirnya ia terpaksa membayar mahal kepercayaannya, dengan meringis saat Hendro memberikan kwitansi perbaikan mobilnya. Ray tak perduli darimana Hendro dapat uang, Ray juga tak perduli bagaimana sahabatnya itu memberikan segudang alasan untuk mengatakan bahwa dirinya tak bersalah. Yang ia tahu, ia harus menjalani hidupnya tanpa mobil kesayangannya. Itu sudah cukup untuk membuat hidupnya tambah susah. Jadi bisa dibayangkan bagaimana girangnya perasaan Ray saat menatap mobilnya.

"Bisa kencan lagi nih, Mas Ray?" celetuk Wardoyo. Ray menoleh dan meleletkan lidah, "Kok bisa bilang begitu, Pak?" Wardoyo menepuk bahu pemuda itu dan tertawa, "Mas Ray, kayak Bapak ngga tahu sampeyan saja."

Ray terkekeh dan berpikir dalam hati, seandainya saja Wardoyo tahu bahwa ia tak selalu membutuhkan mobil untuk memperoleh teman kencan.

Tapi bicara tentang kencan, hari itu memang Ray ada acara. Dan itu salah satu penyebab juga mengapa ia sangat bersyukur mobilnya kembali. Mungkin Reni sudah menawarkan untuk menjemputnya malam itu, tapi Ray tentu saja lebih suka pergi sendiri.

Ray tiba di rumah Reni tepat pukul setengah delapan malam. Tersenyum pemuda itu saat melihat si gadis sudah menunggu di teras rumah. Ray melangkah turun dari mobilnya.

"Hai," sapa Reni, gadis mungil berambut sebahu itu dari balik terali pagar.
Ray mengangguk, menolehkan kepalanya ke arah kanan. Ia tahu, lima rumah dari tempatnya berdiri saat itu, sahabat karibnya Jay pasti sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan kantornya.
"Kenapa? Takut dilihat temanmu?" tanya Reni, membuat Ray merasa kikuk.
"Ah, ngga kok," sahut pemuda itu, menggaruk-garuk kepala, "aku cuman pingin mampir sebentar nanti sebelum pulang."
"Pulang? Apa yang ngebikin kamu berpikir kalau aku bakal ngasi kamu pulang?"
Ray tertawa. Saat itu Reni sudah membuka gerbang pagar. Satu genggaman erat di pergelangan tangan, Reni menyeret Ray masuk ke pekarangan.

"Jadi, ada yang ingin kamu katakan?" tanya Reni, berhenti melangkah dan memutar tubuhnya menghadap Ray. Saat itu jarak mereka hanya satu meter. Ray bisa menghirup aroma melati yang keluar dari tubuh si gadis.

"Apa ya?" Ray terlihat berpikir sejenak, lalu sambil menjentikkan jari ia berkata, "Oh iya, mobilku sudah kembali. Itu berita yang menyenangkan."
Reni meruncingkan bibirnya, "Bukan itu."
"Lalu?" gumam Ray, sementara matanya menatap langit.
"Sayang, memang jawabannya ada di atas?" ucap Reni, menirukan gaya iklan shampoo. Ray menyeringai. Satu gerakan, pemuda itu meraih dagu gadis di depannya dan melayangkan sebuah kecupan lembut.

"Selamat ulang tahun, maaf terlambat dua hari. Tapi aku kan sudah telepon," bisik Ray di bibir si gadis.
Reni membuka matanya yang sempat terpejam dan tersenyum.
"Not as I expected. But it's alright. It's sweet."

Gadis itu lalu melangkah mundur dengan menggigit bibir bawahnya. Matanya menemukan mata Ray. Pemuda itu menundukkan kepalanya dan menyeringai.

"Kukira kita akan pergi makan di luar?" gumam Ray. Tak ada sahutan. Ray mengangkat kepalanya, tak lagi menemukan sosok Reni. Tertawa sendiri, pemuda itu melangkahkan kakinya menuju teras. Ia bukannya tak tahu apa yang diinginkan Reni darinya saat itu. Bahkan ia sudah menduganya sejak melihat Reni hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek selutut.

Bercinta, seperti yang diinginkan gadis-gadis lain darinya.
Seperti pula kata Jay suatu saat padanya, "Kukira gadis-gadis itu cuman rindu sama penismu. Tak lebih dari itu." Dan meskipun Ray yakin bahwa dirinya punya lebih dari sekedar permainan s3ks yang memuaskan, tetap saja kata-kata Jay terngiang di telinganya setiap saat seorang gadis mengajaknya bercinta.

Ray mendapati Reni bersandar di dinding samping pintu ruang tamu. Satu dekapan dan lumatan di bibirnya, Reni lalu berbisik, "Jangan di sini. Nanti dilihat si Mbok."
Gadis itu lalu merangkul lengan Ray dan mengajaknya lebih masuk ke dalam rumah. Tak ada orang sama sekali hari itu selain si Mbok yang entah di mana. Semua sedang berlibur ke Bali. Hanya Reni yang tertinggal, menghadapi ujian akhir semester, dan tentu saja.... menunggu kedatangan Ray.

Bagi Ray, Reni termasuk salah seorang gadis yang paling menyenangkan. Dibandingkan dengan yang lain, Reni memiliki jiwa lebih besar. Gadis itu bisa menerima keadaaan seburuk apapun yang terjadi dalam hubungan antara dirinya dengan Ray. Seperti yang terjadi malam itu, saat handphone Ray mendadak berbunyi.

"Ugh, siapa sih," gumam Ray, mengulurkan tangannya meraih handphone di lantai. Gerakan pinggul pemuda itu terhenti, dan Reni, yang masih tertindih berat tubuh Ray membuka matanya.
"Halo? Ah, wazzup, Yen? Kapan? Oh, okay. Lalu?"

Reni terlihat menunggu dengan sabar, matanya menatap mata Ray yang saat itu memandang lurus ke depan.
"Hmmm. Lalu? Eh, sebentar," Ray menundukkan kepalanya, tersenyum menatap seringai di wajah Reni.

Pemuda itu lalu mengecup bibir gadis di bawahnya dan berbisik lirih setelah menjauhkan handphone, "Kamu bandel."
"Ssshhh," Reni berbisik, "terusin dulu teleponnya, aku pijatin dari sini."
Ray terkekeh pelan, lalu mengangkat kepalanya kembali. Reni masih tetap terlihat tak bergerak. Hanya senyuman nakalnya yang tersungging di wajah.
"Halo? Oh, sori. Ada teman. Iya, cewek. Nah? Hahaha. Lanjutin ceritanya."
Ray melanjutkan perbincangannya, sementara mata Reni tampak perlahan memejam. Bibir bawah gadis itu tergigit beberapa saat kemudian, dan dua lengannya terangkat memeluk pinggang Ray. Lima detik sebelum tubuh gadis itu menegang, erangan tertahan keluar dari bibirnya.
"Oh. Bisa. Bisa. Udah dulu, ya? Oke, minggu depan? Iya. Sip. See ya!"
Ray mematikan handphonenya. Pemuda itu menatap wajah Reni, tersenyum saat menyaksikan butir-butir kecil keringat di kening si gadis.
"Gadis bandel," bisik Ray, "kamu ngga nyisain buat aku."
Reni membuka matanya, balas tersenyum tipis.
"Siapa suruh telepon?"
"Terus. Sudah licin begini?" Ray berkata sambil menyeringai. Reni tertawa, menarik kepala Ray ke dadanya. Ray menggerak-gerakkan pinggulnya perlahan.
"Ray..."
"Ya?"
"Ngga usah keluar kalau ngga mood."
"Hmm? Kenapa bilang begitu?"
"I know you, lah. It doesn't matter, kan?"
Ray tertawa, mengangkat tubuhnya dan berguling ke samping tubuh Reni. "Yah, it doen't matter at all," bisik pemuda itu, lalu memejamkan matanya.
Reni beringsut, meletakkan kepalanya di atas dada Ray.

"It's my birthday..," Reni berbisik. Ray menggumam mengiyakan.
"Kamu ada di sini...," Reni berbisik lagi. Ray tak menyahut, hanya memainkan jemarinya di punggung si gadis.
"Dan kamu ngga ejakulasi...."
Sampai di situ Ray membuka mulutnya dan terkekeh.
"Hahaha. Katanya you know me? Mestinya aku yang merasa bersalah, soalnya kamu klimaks waktu aku sedang teleponan."
"Aku sengaja kok."
"Wah? Hahaha. Emang bisa disengaja?"
"Bisa, lah. Tapi kamu ngga masalah, kan?"
"Jujur aja, enaknya jadi kurang. Trus..."
"Trus kamu jadi ngga mood. Trus akhirnya kamu malah jadi gila gara-gara kepaksa dan ngga pingin membuat aku ngerasa bersalah. Trus akhirnya kamu bikin aku sakit. Trus kamu bakalan minta maaf. Gitu kan?"
Ray terkekeh sekali lagi, tapi tak menjawab tuduhan si gadis padanya. Mereka berdua terdiam beberapa saat lamanya. Reni meraba penis Ray, dan tersenyum tipis saat menyadari penis itu sudah melemas.

"Bisa ya, orang kok ngga punya rasa?" tanya Reni, memecah keheningan.
"Siapa?" sahut Ray, "Aku? Aku punya kok."
"Bertaruh, kamu ngga pernah make waktu sedang make love."
Ray terdiam beberapa saat dan berkata, "Mungkin. Terkadang ngga juga."
"Kamu menikmati ngga sih?"
"Tentu saja."
"Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu nikmati?" tanya Reni sekali lagi, mengangkat tubuhnya dan berbaring miring sambil menatap wajah Ray. Mata pemuda itu masih terpejam, tapi bibirnya tersenyum.

"Aku? Aku merasa enak. Itu saja. Apa yang aku nikmati? Aku menikmati raut wajahmu. Erangan kamu. Desahan kamu. Respons kamu. Itu menyenangkan."
"Hanya itu?" Reni tersenyum, "Kalau kamu ejakulasi? Apa artinya?"
"Artinya?" Ray berkata, membuka matanya dan mengangkat lengan, lalu menggunakan telunjuknya untuk menyentuh pelipis, "Artinya itu adalah sensorik. Bukan motorik. Manusia kan punya saraf yang tak bisa dikontrol oleh otak."
"Jadi kalau ngga salah, kamu sebetulnya ngga mau ejakulasi?"
Ray tertawa sebelum menjawab, "Bagaimana kalau dikatakan, aku tak pernah mempermasalahkannya? Kurasa itu lebih baik."
"Apa itu? Gengsi? Atau memang kamu...."
"Katakanlah aku lebih bisa mengontrol diriku sendiri," sela Ray, matanya melirik mata gadis di sampingnya. Senyuman masih tersungging di bibir pemuda itu. Reni menghela nafasnya dan kembali meletakkan kepalanya di dada Ray.

"Perbincangan yang ngga mutu. Toh semuanya akan kembali pada pertanyaan, siapakah aku buat kamu," bisik Reni lirih. Ray tak menanggapi pernyataan itu.
"Ray..."
"Apa?"
"Boleh aku minta hadiah ulang tahunku?"
"Hmm...oke. Apa itu?"
"Sesuatu yang ngga pernah kamu berikan sama gadis lain. Kalaupun pernah, aku ingin jadi yang kedua setelah gadis itu."
"Ren...."
"Ngga. Bukan hubungan yang terikat. Aku tahu kamu ngga suka. Aku juga ngga yakin aku bakal jadi nomor dua."
"Aku sudah bisa menduganya."
"Oh ya? Apa sih?"
"Celana dalamku?"
Reni terkekeh, menggigit dada Ray manja. "Bukan itu, bego."
Ray ikut tertawa, "Hahaha. Lalu apa?"
"Perasaan kamu. Semalam saja."
"Hmmm," Ray menggumam, "itu susah."
"Bahkan untuk hadiah ulang tahunku? Walaupun hanya semalam?"
"Yap."
Reni terdiam beberapa saat lamanya, sebelum gadis itu menekan tubuhnya lebih merapat ke tubuh Ray.

"Kalau begitu, peluk aku sampai jam dua belas. Jangan lepaskan aku?"
Ray tersenyum dan berbisik, "Tentu."
Lima belas menit lamanya, sebelum Reni berbisik.
"Ray, bersyukurlah aku bukan cewek yang keras kepala."
Ray menganggukkan kepalanya.

"Kamu telepon aku besok?" tanya Reni dari balik pagar.
Ray menganggukkan kepalanya, "Iya. Tapi kalau ngga sibuk, ya?"
"Aku tebak, pasti besok malam kamu ada kerjaan sama cewek lain."
Ray terkekeh dan mengangkat bahu, "Ngga tahu."
"Iya. Apa urusanku juga," senyum Reni, "sudah, pulang sana."
"Ren.....," Ray memanggil sebelum masuk ke dalam mobil.
"Apa, Ray?" Reni mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk.
"Kamu tunggu setengah jam?"
"Buat apa?"
"Lihat saja nanti," senyum Ray, mengedipkan mata nakal, lalu masuk ke dalam mobil, meninggalkan Reni termangu.

Dua puluh menit kemudian mobil yang dinaiki Ray berhenti di depan rumah Reni. Ray tersenyum saat mendapati gadis itu masih menunggunya di teras. Reni menghampiri Ray dengan senyum di bibir, tapi Ray masih bisa melihat kantung mata milik si gadis yang membesar.

"Reni," ucap Ray, menatap mata gadis itu dari balik terali pagar. Beberapa lamanya mereka saling berpandangan, sampai akhirnya Ray menyeringai. Pemuda itu merogoh sesuatu dari balik bajunya dan mengeluarkan sekuntum bunga mawar berwarna merah darah yang masih segar. Bibir Reni sedikit terbuka saat Ray menyodorkan bunga itu melewati terali.

"Ini," ucap Ray sambil tersenyum," sesuatu yang hanya pernah kuberikan pada satu orang gadis sepuluh tahun yang lalu. Sejak itu, tak ada seorangpun yang layak menerimanya."

Reni meraih bunga itu dengan jemari yang sedikit bergetar. Ray sekarang bisa melihat bulir-bulir air mata mengalir di pipi si gadis. Ah wanita, pikir Ray dalam hatinya, seberapa keras kepalanya kah kalian dalam urusan cinta? Seberapa luas hati kalian dalam menghadapinya?

"Aku ingin dipeluk...," bisik Reni, memainkan tangkai bunga mawar di tangannya.
"Jangan," bisik Ray, mengulurkan tangan dan meraba batang hidung Reni.
"Ray.. kenapa aku?"
Ray terkekeh dan berkata, "Katakanlah kamu satu dari sekian banyak gadis yang berulang tahun bersamaku, tapi satu-satunya yang berani meminta sesuatu sebagai hadiah ulang tahunnya."

Usai berkata demikian Ray membalikkan tubuh dan masuk ke dalam mobil. Reni tak mengatakan apapun, tak juga menatap kepergian Ray.
Di dalam mobil, sepuluh menit kemudian, Ray mendengar handphone-nya berbunyi lagi. Tersenyum, pemuda itu menyapa, "Halo, Ren."
"Ray brengsek! Kamu buat aku jatuh cinta! Ayo! Balas cintaku!!"
"Ren, tunggu sampai tahun depan."
"Sialaaaannn!! Awas kalau ketemu lagi!!"
Ray tertawa tebahak-bahak.
Reni juga terdengar tertawa dari seberang.

Tertawa bahagia, kah, Reni? Atau tertawa sedih? Atau bahkan dua-duanya?

Artikel Terkait

Saat ini saya mengelola blog yang beralamat di Iumari, salam kenal dan sehat selalu.