Saturday, May 6, 2017

Cara Menentukan Pilihan

Cara Menentukan Pilihan - Suatu hari, di sebuah media sosial, dalam suasana menjelang pilkada, saya menemukan salah seorang teman saya memberikan komentar di akun temannya, “sekolah tinggi-tinggi, kok informasi seperti itu disebarluaskan”. Jika saya melihat status temannya, saya melihat sebuah silogisme yang kurang tepat, namun menarik untuk disebarluarkan karena isu tersebut memang sedang panas-panasnya untuk diangkat lalu dibagikan ke teman-teman apalagi ke mereka yang memiliki pilihan yang sama. Teman saya mempertanyakan tingkat intelektual seseorang berdasarkan pada pilihan yang dia buat. Menentukan Pilihan.

Cara Menentukan Pilihan

Jujur, saya tidak sependapat dengan teman saya. Buat saya, berdasarkan observasi sehari-hari, tingkat intelektual seseorang tidak selalu berkorelasi lurus terhadap pada pilihan yang dia buat. Menentukan pilihan itu terkadang lebih banyak didorong oleh sisi emosional dibandingkan kerasionalan.

Menentukan Pilihan


Saya punya seorang teman. Dia cerdas, sekolah sampai tingkat master di sekolah ternama di belahan Eropa. Jelas, dari sisi kerasionalan, dia tidak bisa diremehkan. Pemikiran-pemikirannya tajam dan analisisnya selalu dalam. Sehari-hari, dia merokok. Saya pernah bertanya kepadanya, apakah dia tahu dampak negatif dari merokok. Ya, dia menjawab dengan tajam mengenai dampak negatif dari merokok. Secara rasional, dia memahami efek buruk dari kegiatan membakar dan mengisap asap ini. Tetapi, secara emosional, dia tidak bisa menghindari nikmatnya perasaan yang lega dan menenangkan dari kegiatan ini. Bagi saya, sikap dia menentukan pilihan untuk tetap merokok lebih didorong oleh sisi emosional.

Cara Menentukan Pilihan

Cerita lain adalah blind taste test. Seseorang diberikan 3 minuman tanpa label, hanya berupa tulisan A, B, dan C. Dia diminta untuk mencicipi dan kemudian menentukan mana rasa yang paling enak. Setelah mencicipi, dia menyatakan minuman A yang paling enak. Keputusannya untuk menentukan pilihan bahwa minuman A yang terenak sepenuhnya didorong oleh kerasionalan atas indera pengecapnya. Setelah itu, dia kembali diminta untuk mencicipi 3 minuman yang sudah diberi label atau merk, katakan merk Alpha, Beta, dan Charlie. Sebenarnya minuman Alpha adalah minuman A yang diberi label, minuman Beta adalah minuman B yang diberi label, dan minuman Charlie adalah minuman C yang diberi label. Akan tetapi orang ini tidak diberitahu bahwa ini minuman yang sama. Dia diminta untuk mencicipi dan kemudian menentukan minuman yang paling enak. Setelah mencicipi, dia menyatakan bahwa minuman Charlie yang paling enak. Bagaimana mungkin minuman yang sama hanya karena diberi label bisa membuat dia menentukan pilihan yang berbeda. Ini dikarenakan merk Charlie sudah sangat dikenali oleh masyarakat (sementara merk Alpha dan Beta sama sekali baru) sehingga keberadaan brand mempengaruhi pilihannya. Keputusannya untuk memilih minuman C ini bisa jadi karena adanya perasaan emosional terhadap brand tersebut.

Sudah jelas bagi saya, menentukan pilihan itu terkadang tidak ada hubungan dengan tingkat intelektual. Untuk pilihan yang benar-benar dituntut objektif, mungkin kita akan sepenuh hati untuk menggunakan pendekatan rasional. Namun bagi pilihan yang personal bagi kita, besar kemungkinan kita akan mendahulukan sisi emosional tanpa mengenyampingkan kerasionalan.

Mencintai Pilihan Yang Berlebihan


Namun, ada satu hal yang mengganjal di hati saya. Ketika seseorang sudah mengagumi sebuah pilihan secara berlebihan, dia bisa berubah layaknya brand advocate yang sangat menyebalkan.

Saya punya teman yang dulu sangat membenci si A. Ketika masih mahasiswa, dia membeberkan semua dosa, dusta, dan kejelekan si A. Fakta-fakta yang disajikan seolah tidak bisa dibantah lagi. Semua peristiwa dihubung-hubungkan demi menghasilkan argumentasi yang (seolah) valid. Kini, ketika sudah berada di dunia kerja, dia berada di kelompok pro A. Argumentasi yang dulu dia lontarkan kini dibalikkan dengan justifikasi yang tidak kalah hebatnya. Peristiwa-peristiwa hebat kembali dihubung-hubungkan untuk mencari pembenaran yang (seolah) valid untuk mementahkan argumentasi lama yang dulu (pernah) valid baginya. Sikapnya yang berlebihan dalam menentukan pilihan menjerumuskan dia ke jurang emosional yang terlalu dalam, dan menghasilkan bekas yang susah terhapuskan.

Sikap seseorang dalam menentukan pilihan, menurut saya, bisa dipengaruhi oleh banyak faktor seperti ideologi, kekuasaan, harta, pekerjaan, dan lain-lain. Saya sendiri, dulu ketika bekerja di organisasi A, ketika ditanya oleh orang, selalu menjawab bahwa produk A adalah yang terbaik. Kini, setelah saya tidak bekerja di industri tersebut, ketika ditanya oleh orang, saya akan menjawab dengan lebih obyektif atau apa adanya. Saya menjadi emosional dalam menentukan pilihan karena terkait dengan pekerjaan saya, gaji saya, karir saya, dan sebagainya. Ketika pilihan itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan saya, maka saya menjadi lebih rasional. Di atas emosi dan kerasionalan, manusia bisa memilih mengikuti kepercayaan yang diikutinya.

Sikap membela pilihan yang berlebihan dan merendahkan pilihan orang lain bisa sangat merusak persahabatan yang telah lama dijalin. Layaknya kertas yang pernah diremukkan, sekali kita menghina pilihan orang lain, apalagi menghubung-hubungkan dengan tingkat kerasionalan, bisa jadi silahturahmi yang telah terjalin rapi rusak dan tak kan pernah mulus kembali. Ketika seseorang sudah yakin pada pilihannya, akan berat bagi orang lain untuk mempengaruhinya. People see what they want to see.

Kita harus bisa menempatkan diri secara objektif dan melihat dari kacamata yang lebih luas (atau disebut Scout Mindset pada video TED di atas) untuk memahami perspektif mereka dalam menentukan pilihan. Kita terkadang lupa untuk berpikir sejenak. Lupa untuk bertanya. Kita hanya sibuk memikirkan jawaban. Saya suka sebuah kutipan yang saya dapat dari pelatihan beberapa bulan yang lalu. We do not listen to understand, we listen to reply.

We do not listen to understand, we listen to reply.

Yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama adalah bagaimana kita bisa saling menghargai pilihan, tanpa harus saling menghina dan merendahkan orang yang berbeda pilihan. Menentukan pilihan tidak selalu berhubungan dengan tingkat kepintaran. Menghubung-hubungkan sebuah pilihan dengan tingkat intelektual juga rasanya kurang pantas. Mari saling menghargai tanpa harus saling mencederai.

Artikel Terkait

Hidup memang membutuhkan motivasi, karena hidup adalah perjuangan maka kita harus mempunyai semangat juang yang tinggi.