Thursday, January 19, 2017

Pentingkah Tes IQ Untuk Siswa

Pentingkah Tes IQ Untuk Siswa - Selama ini tes yang dianggap dapat menggambarkan kecerdasan seseorang adalah tes IQ (Intelligence Quotient). Beberapa sekolah bahkan menggunakan untuk penerimaan siswa baru. hal ini memunculkan pertanyaan, pentingkah tes IQ untuk siswa?

Pentingkah Tes IQ Untuk Siswa

Sebelum dijawab penting atau tidaknya melakukan tes IQ pada siswa, mari kita tengok terlebih dahulu latar belakang lahirnya tes IQ. Pada saat perang dunia 1, Alferd Binet seorang psikolog berkebangsaan Perancis diminta oleh pemerintahnya mengembangkan sebuah tes untuk proses rekruitmen calon tentara. Karena pada saat itu belum ada riset tentang otak dan cara kerjanya. Basis yang di gunakan dalam tes yang dikembangkan tersebut bukan didasarkan pada cara otak manusia bekerja.

Asumsi yang digunakan dalam tes tersebut adalah asumsi “Bell Curve” atau kurva lonceng. Kurvanya persis seperti lonceng yang bagian atasnya mengerucut sementara semakin ke bawah semakin melebar. Lonceng diibaratkan sebagai sebuah kelompok manusia. Asumsinya manusia dengan kemampuan standar populasinya paling banyak, sementara manusia yang sangat pintar atau bodoh adalah populasinya lebih sedikit.

Pentingkah Tes IQ Untuk Siswa

Pentingkah Tes IQ Untuk Siswa
Tabel 1. Klasifikasi tes IQ

Padahal, jika kita ingin mengukur kecerdasan seseorang, yang harus diriset tentu otak yang bersangkutan. Karena pada saat itu belum ada riset tentang itu, akhirnya tes yang dipakai menggunakan basis asumsi yang menurut Alferd Binet benar. Sistem asumsi itu dilakukan sebagai dasar membuat tes yang tujuan utamanya memisahkan atau mengklarifikasikan kegagalan atau keberhasilan seseorang berdasarkan kemampuan mengerjakan tes. Semakin banyak dan semakin tepat yang dia kerjakan, itu artinya dia sangat pintar. Begitu juga sebaliknya. Pada akhirnya yang muncul adalah orang-orang yang gagal atau berhasil mengerjakan tes tersebut.

Karena saat itu tidak ada tes lainnya, tes IQ yang pada dahulunya diperuntukan untuk rekrutmen calon tentara, perlahan-lahan diujicobakan untuk penerimaan karyawan di masa Revolusi Industri. Dari waktu ke waktu tes ini meluas dan merambah sehingga sampai ke sekolah.

Sebagian besar sekolah di Indonesia menggunakan basis model penilaian yang digagas oleh Alferd Binet ini, yakni penilaian berbasis kurva lonceng. Oleh karena basis asumsi tersebut, fungsi sekolah lebih pada sebuah lembaga yang berperan menyeleksi siswa pintar atau bodoh. Bukan menjadi sebuah lembaga yang membuat siswa pintar atau menjadi juara semua. Karena sistem asumsi inilah, sekolah hanya mampu mencetak tiga juara dari lebih kurang 35 siswa dalam kelas setiap tahunnya, atau lebih banyak mencetak siswa yang gagal daripada berhasil.

Itulah kenapa sistem ini pada tahun 1980-an dievaluasi secara total dan dinilai sudah tidak layak lagi digunakan pada sistem pendidikan manusia. Hal ini dikemukan oleh Prof. Howard Gardner seorang psikolog dan pendidik dari Amerika Serikat yang telah melakukan riset lebih dari 20 tahun. Beliau berusaha menciptakan sebuah sistem yang dapat membuat setiap siswa menjadi juara. Beliau telah merumuskan sebuah teori yang dinamakan “Multiple Intelligence” atau Kecerdasan Beragam. Berbeda dengan tes IQ yang menganggap ada siswa yang bodoh atau pintar, teori Kecerdasan Beragam menemukan bahwa setiap siswa terlahir pintar. Mereka pintar dibidangnya masing-masing dan antara siswa satu dengan lainnya berbeda.

Artikel Terkait

Saat ini saya mengelola blog yang beralamat di Namina, salam kenal dan sehat selalu.