Friday, January 13, 2017

Kisah Sukses Co-Founder Opera Software

Kisah Sukses Co-Founder Opera Software - Anda pasti tahu opera browser, dan inilah seorang dibalik keberhasilan opera browser mendunia, dia adalah Jon Stephenson von Tetzchner. Software ini sebenarnya sudah lama melanglang buana di dunia, terhitung sejak tahun 1995. Keunggulannya ada pada kompresi data ketika berselancar di dunia maya. Dijamin lebih irit kuota, apalagi kalau pakai versi mini nya.

Kisah Sukses Co-Founder Opera Software

Tapi tahukah siapa orang yang ada dibalik itu semua?. Dia adalah Jon Stephenson von Tetzchner. Namanya memang agak susah dieja. Ia bersama rekan sejawatnya Geir Ivarsoy mengembangkan opera dari proyek yang diabaikan oleh perusahaannya.

Jon lahir di islandia, 29 Agustus 1967. Kecemerlangan jon tampaknya sudah ada di dalam darahnya. Jon lahir dari seorang ibu berkebangsaan islandia, Elsa Jonsdottir dan seorang ayah yang berprofesi sebagai profesor psikologi, Stephenson von Tetzchner. Masa kecil Jon dihabiskan bersama kakek dan nenek serta bibinya. Kakeknya adalah seorang dokter, sementara bibinya adalah seorang komposer musik.

Jon menyelesaikan pendidikan dasarnya di Reykjavik Junior College, salah satu sekolah tertua di islandia. Usai menyelesaikan pendidikan dasarnya, jon melanjutkan studinya ke norwegia, dan pilihannya jatuh pada University of Oslo. Disinilah ia berhasil mendapatkan gelar master di bidang komputer.

Jon Stephenson von Tetzchner Mendirikan Opera Software


Kisah Sukses Co-Founder Opera Software

setelah lulus dari University of Oslo, Jon langsung bekerja di sebuah perusahaan komunikasi di norwegia, telenor. Nama telenor mungkin terasa asing. Tapi jangan salah, telenor adalah salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia.

Cakupannya meliputi Skandinavia, Eropa timur, bahkan merambah sampai Asia. Memang tidak sampai menyentuh indonseia, namun beberapa negara seperti Malaysia, Myanmar, Bangladesh dan Thailand merasakan servis Telenor. Melalui layanan telekomunikasi dan televisi berbayar.

Di Telenor, Jon Stephenson von Tetzchner bertemu dengan rekannya Geir Ivarsoy. Bersama Geir, jon bekerja mengembangkan sebuah sofware peramban bernama MultiTorg Opera. dari sinilah bibit Opera mulai terbentuk. Sayangnya, Proyek Software yang tengah jon dan Geir kerjakan meski terhambat. Pasalnya, Telenor menghentikan proyeknya tersebut begitu saja.

Setelah berhasil memperoleh hak cipta atas MultiTorg Opera dari Telenor tahun 1995, akhirnya jon memisahkan diri dan mendirikan perusahaan baru bernama Opera Software, dengan modal $7000. Kala itu, jon membangun perusahaan tersebut berdua saja dengan Geir. Selanjutnya, Jon mencari orang-orang baru untuk mengembangkan Opera Software.

Kejelian Jon untuk menutup celah yang luput dari Internet Explorer dan Monzilla membuat Opera berkembang dengan pesat. Browser tersebut menjadi salah satu dari empat Browser terbesar dunia, Bahkan hingga saat ini. Kala itu, Opera lebih populer di kalangan pengguna ponsel.

Jon sangat serius mengembangkan opera. ia pernah bernazar, Jika Opera versi 8 mampu mencapai 1 juta unduhan dalam waktu 4 hari, ia akan berenang menyeberangi samudera Atlantik dari Norwegia menuju Amerika Serikat. Itu terjadi pada tahun 2005.

Dua hari setelahnya, jumlah unduhan opera bahkan mencapai 1.050.000. Nasi sudah menjadi bubur. Nazar meski dipenuhi. Jon pun berusaha berenang menyeberang Samudera Atlantik. Sayang usahanya gagal tak lama berselang. Tapi, setidaknya dia punya niatan baik memenuhi nazarnya.

Tahun 2006, harus kehilangan rekan seperjuangannya. Geir meninggal dunia akibat kanker yang dideritanya sejak lama. Untuk menghormati rekanya itu, Jon mendedikasikan Opera Versi 9 untuk Geir.

Jon Stephenson von Tetzchner Mundur Dari CEO Opera Software Dan Dijual


Sekian lama memimpin Opera Software, akhirnya pada awal 2010, jon memutuskan untuk mundur dari posisinya sebagai CEO Opera Software. Namun, Ia tetap membantu mengembangkan opera sebagai penasihat strategi di Opera.

Tahun 2011, Jon sang pendiri terpaksa hengkang dari Opera. Nyatanya, dibalik berbagai kesuksesan yang sudah diraih Opera selama 7 tahun terakhir sebelum Jon hengkang, Opera didera masalah keuangan. Permasalahan terkait investor tak kunjung berhenti. Terjadi perbedaan pendapat dan pandangan di dalam tubuh Opera. Beberapa menginginkan Opera dijual untuk mengatasi masalah keuangan tersebut.

Namun tidak bagi Jon. Bagi Jon, Opera seperti anaknya sendiri. ia ingin mengembangkan opera menjadi perusahaan yang lebih baik. Baginya, menjual opera akan mengubah arah yang sudah ia tentukan. Saking kerasnya Jon sampai memecat beberapa orang yang berseberangan dengannya. Setelah 7 tahun berjuang, Jon sampai pada batasnya. Akhirnya ia hengkang dari Opera. Tak lama berselang, perusahaan yang dibangunnya dari nol dijual.

Prediksi jon tepat. Opera mulai berubah, Kode dasar opera diganti, Filosofi opera mulai bergeser. Beberapa fitur yang membedakan Opera dengan peramban yang lain dihilangkan. Bagi Jon, Opera telah menjelma menjadi peramban kebanyakan.

Larut dalam kekecewaan, Jon tak berniat membangun peramban lagi. Membangun sebuah peramban tak semudah membalikkan telapak tangan, butuh kerja keras yang tak main-main. Lagi pula, hati Jon masih terpaku pada Opera dan menyaksikan bagaimana opera perlahan-lahan menjauh dari idealisme nya. Kerja kerasnya selama 19 tahun terbuang begitu saja, begitu opera pindah kepemilikan.

Keputusan itu membuat Jon berganti-ganti perusahaan. Tahun 2011, ia menjabat CEO Dvorzak Invest. Tak sampai satu tahun, Jon didapuk menjadi CEO Vivaldi Invest. Sementara setahun setelahnya, Jon menjabat sebagai CEO Innovation House, semua itu adalah perusahaan yang didirikan Jon.

Jon Stephenson von Tetzchner Membangun StartUp Vivaldi.net


Kisah Sukses Co-Founder Opera Software

Melihat perubahan-perubahan yang terjadi dalam tubuh Opera, Jon akhirnya tak bisa tinggal diam selamanya. Ia kembali berusaha mewujudkan visi yang tadinya ditujukan untuk Opera. Akhirnya ia kembali membangun Starup baru yang sesuai dengan visinya. Namanya Vivaldi.net.

Situs ini berbasis Chromium. Jon membangun situs dengan fitur dan pilihan opsi yang kaya. Persis seperti pada Opera yang diinginkan sebenarnya, situs ini dibuat untuk menggantikan My Opera yang dihentikan oleh Opera Software setelah dijual. Situs ini berbentuk jaringan sosial berupa forum pengguna.

Untuk mewujudkan mimpinya, Ia menggaet sebagian besar pekerja di Opera dan khususnya Tatsuki Tomita, pemimpin Opera di Jepang. Dua tahun berjalan dengan Vivaldi.net, Jon akhirnya membangun peramban baru, dengan nama yang sama dan lagi-lagi peramban ini dibuat untuk menggantikan opera.

Bagi jon, mimpinya tak akan bisa dibendung begitu saja. Banyak jalan yang bisa ia lakukan untuk mewujudkan impiannya. Seperti pada Vivaldi.net Jon tak berniat mengkomersialkan forum ini. Vivaldi browser saat ini seumur jagung. Jon berharap Vivaldi bisa menjadi pilihan pengguna ketika berselancar di dunia maya. Kabarnya, jon juga sedang menyiapkan aplikasi mobile Vivaldi untuk Android.

Artikel Terkait

Saat ini saya mengelola blog yang beralamat di Namina, salam kenal dan sehat selalu.