Thursday, July 28, 2016

Tips Menjadi Fotografer Profesional

Tips Menjadi Fotografer Profesional – Setelah mengetahui dasar-dasar fotografi, ada baiknya kita tidak terpaku pada hal (teori) tersebut. Yang harus kita lakukan kemudian adalah memahami bagaimana sebuah foto dihasil­kan. Tentu dalam hal ini, kita harus sesering mungkin memotret agar kepekaan dalam membuat foto yang baik dapat semakin terasah.

Tips Menjadi Fotografer Profesional

Salah satu cara paling efektif untuk mengasah kepekaan adalah dengan mencoba memahami bagaimana cara berpikir para fotografer profesional. Berikut akan saya uraikan sebagian hal yang ada di dalam kepala fotografer profesional dalam proses menghasilkan foto.

1. Tidak Berkompromi dengan Waktu


Seorang fotografer profesional tidak akan pernah berkompromi dengan waktu. Mereka bangun beberapa jam sebelum matahari terbit, dan sudah siap memotret saat matahari terbit. Pencahayaan pagi hari saat matahari terbit tidak akan pernah disia-siakan. Mereka tidak per­nah berkompromi untuk bangun lebih siang karena rasa kantuk.

Tiga puluh menit sebelum dan setelah matahari terbit, juga sebe­lumdan setelah matahari tenggelam adalah batas waktu seorang fotografer landscape dalam membubuhkan cahaya “magis” dalam karyanya. Lebih dari itu, cahaya matahari akan lebih keras dan membuat foto mereka tidak dramatis. Bahkan untuk melakukan pemotretan, para fotografer profesional pun melakukan survei di bulan atau mu­sim apakah langit akan tampak paling menawan.

2. Memotret pada Diafragma Tertajam Sebuah Lensa


Siapa yang tidak tergiur dengan lensa bukaan besar seperti f1,2 atau mungkin f2,8? Setiap fotografer pasti memiliki setidaknya satu buah lensa seperti itu, namun apakah semua tahu bahwa dengan bukaan yang semakin besar maka kemungkinan untuk “salah fokus” juga semakin besar? Dengan bukaan yang besar, seringkali kecepatan rana pun meningkat, dan dengan komposisi seperti ini, maka ruang tajam (depth of field) pun akan semakin menyempit. Bila subjek foto dan kamera tidak berubah posisi sedikit pun, foto Anda akan aman, tapi bagaimana kalau yang difoto adalah benda bergerak, dan Anda tidak memakai tripod?

Entah apakah saling berhubungan atau tidak, pada kalangan fo­tografer profesional seringkali terdengar perbincangan mengenai diafragma tertajam pada sebuah lensa. Setiap lensa dipercaya memi­liki titik diafragma penghasil gambar tertajam. Cara mengetahuinya mudah saja. Cari tahu berapa bukaan terbesar lensa Anda, kemudian turunkan dua stop lebih kecil. Misal, sebuah lensa dengan diafragma f2,8, maka titik tertajam lensa tersebut adalah f5,6.

Kembali pada paragraf sebelumnya.Mungkin saja penjelasan mengenai titik tertajam diafragma sebuah lensa bisa disimpulkan seperti ini: “sebisa mungkin jangan menggunakan diafragma bukaan besar jika menginginkan gambar yang selalu tajam”.

3. Memperhitungkan Komposisi


Jangan terlalu sibuk dengan urusan bokeh atau peralatan apa yang Anda gunakan untuk memotret, pikirkan juga mengenai komposisi. Coba perhatikan lomba foto yang ada, dan perhatikan seperti apa foto yang menjadi pemenangnya. Tidak selalu tentang teknik foto. Karena bila hanya mempertimbangkan teknik, semua orang bisa mempelajari dan menguasainya dengan baik. Sementara itu, penguasaan kompo­sisi adalah hal yang erat kaitannya dengan ide dan kreativitas seseo­rang.

4. Menyiasati Kemungkinan Berguncang dengan Speed


Siapa yang tidak tergiur dengan lensa tele? Semua fotografer pasti menginginkan setidaknya satu buah lensa 70-200 di dalam tas kameranya. Tapi apakah semua orang tahu bahwa dengan focal length (jarak milimeter lensa) yang panjang, semakin besar juga kemungkinan foto berguncang. Dengan focal length besar, kita harus menyeimbangkan bidikan dengan kecepatan rana yang semakin tinggi juga. Oleh sebab itu, lensa tele dengan bukaan diafragma besar sangat mahal hargan­ya, karena lensa ini memungkinkan kita untuk memotret menggu­nakan kecepatan rana tinggi tanpa perlu takut foto yang dihasilkan gelap.

Mengenai kecepatan rana yang sesuai dengan focal length sebuah lensa, ada sebuah “panduan” yang membantu kita untuk mencegah menghasilkan foto yang kabur akibat guncangan. Focal length yang digunakan, dikalikan dua, maka hasil tersebut merupakan kecepatan rana minimum untuk memotret.

Misal, bila kita memotret pada 70 mm, kecepatan rana minimumnya adalah 70 x 2 = 140. Kecepatan rana yang mendekati angka tersebut adalah 1/160.

5. Memercayai Histogram


Punya kebiasaan melihat LCD kamera setiap kali selesai melakukan sebuah pemotretan? Jangan dihilangkan kebiasaan tersebut. Tidak perlu malu apabila Anda disebut sebagai seorang amatir karena kebiasaan ini. Seorang profesional akan membuat pemotretannya sesempurna mungkin, dan tidak mudah percaya dengan mata. Bukan berarti apa yang dilihat mata adalah salah, namun dengan berbagai kondisi, mata kita memang bisa salah.

Pernah merasa foto yang kita hasilkan terlalu gelap ketika kita meli­hat pada LCD kita di bawah sinar matahari? Hal ini merupakan salah satu contoh “kesalahan” mata, di mana pupil akan mengecil dalam kondisi sangat terang karena sinar matahari, sementara itu LCD kamera yang kalah terang akan terlihat gelap. Apabila kita tertipu paca kondisi ini, tentu kita akan mengubah setting-an kamera dan melakukan pemotretan sampai hasilnya sesuai dengan apa yang kita lihat. Hal ini bisa menjadi hal yang fatal.

Namun, kita tidak perlu takut pada hal ini, karena kejadian seperti ini sangat mudah dihindari. Bagaimana caranya? Caranya dengan membaca histogram. Bagaimana cara membaca histogram? Cukup dengan melihat tiga elemen pada histogram; area shadow, midtones, dan highlights.

Shadow merupakan area gelap pada foto, highlights merupakan area terang pada foto, sedangkan midtones merupakan area di antara gelap dan terang.

Untuk membuat foto yang baik secara pencahayaan, tentu kita harus bisa mengatur proporsi area gelap dan terang dengan baik. Apabila area gelap terlalu besar dan area terang terlalu kecil, foto akan menja­di under exposure. Jika kondisi yang terjadi adalah sebaliknya, foto akan menjadi over exposure.

6. Menggunakan Flash di Saat yang Tepat


Pernah melihat fotografer sedang memotret pada siang hari namun menggunakan lampu kilat atau flash? Atau mungkin pernahkah Anda melihat dalam berita di tv, para jurnalis foto menggunakan flash ketika memotret pada siang hari? Jangan tertawa atau berkomentar bahwa mereka sedang “menggarami laut”.

Para fotografer di atas menggunakan flash pada siang hari di mana matahari sedang bersinar terik bukan karena mereka tidak tahu bagaimana cara menggunakan kamera sehingga membutuhkan ca­haya tambahan, justru mereka sangat tahu bagaimana menggunakan kamera dan lampu kilat.

Mengapa demikian? Bukankah matahari masih bersinar sehing­ga cahaya yang dibutuhkan bisa tercukupi? Perlu dipahami, ketika matahari bersinar terik terutama pada tengah hari, cahaya matahari yang bersinar di atas kita menghasilkan bayangan yang keras. Hal ini sangat terasa bila kita memotret manusia, karena pada area di bawah mata sampai dengan mulut terdapat area gelap yang membuat foto kita tidak bagus. Begitu pula dengan memotret hal lain yang bisa saja terganggu bayangan. Penggunaan lampu kilat ini merupakan upaya para fotografer untuk menghilangkan bayangan tersebut. Teknik ini disebut sebagai fill in.

Sama halnya dengan fotografer yang memotret di tempat gelap namun tidak menggunakan lampu kilat tambahan atau menggu­nakan lampu kilat namun kekuatan cahayanya sangat minim. Hal ini dilakukan oleh fotografer tersebut untuk menjaga suasana di tempat pemotretan agar tidak banyak “terkontaminasi” cahaya tambahan. Bayangkan suasana romantis makan malam dengan cahaya remang kemudian difoto dengan menggunakan lampu kilat. Suasana romantis tersebut tentu akan hilang.

7. Melibatkan Kreativitas


Semua orang bisa membeli kamera bagus, semua orang juga bisa be­lajar memotret melalui kursus fotografi, dan semua orang bisa belajar bagaimana cara melakukan olah digital pada sebuah foto, namun ti­dak semua orang memiliki kreativitas yang tinggi. Kreativitas merupa­kan suatu hal yang sangat penting dalam fotografi. Apabila tidak ada kreativitas, dalam satu tempat wisata hanya akan terlahir satu foto saja. Semua orang mengambil foto yang kurang lebih sama, tidak ada eksplorasi lebih jauh.

Proses berpikir kreatif akan menghasilkan foto yang kuat dalam se­buah misi penyampaian cerita. Beberapa hal yang ingin disampaikan kepada orang lain dapat tersampaikan cukup hanya dengan satu foto.

Artikel Terkait

Saat ini saya mengelola blog yang beralamat di Iumari, salam kenal dan sehat selalu.